Komisi V DPR Sudjatmiko menilai perlintasan sebidang di Bekasi sebagai bom waktu usai tabrakan maut 27 April lalu
MATRASNEWS, BEKASI – Anggota Komisi V DPR dari Fraksi PKB, Sudjatmiko, mendukung penuh percepatan pembangunan flyover dan penataan perlintasan sebidang di kawasan Stasiun Bekasi dan Bekasi Timur.
Dukungan itu menyusul tragedi tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL Commuter Line jurusan Cikarang pada 27 April 2026 yang menewaskan sebanyak 16 orang.
Menurut Sudjatmiko, insiden tersebut menjadi alarm keras bagi pemerintah pusat, daerah, dan PT KAI. Kawasan Bekasi dinilai membutuhkan rekayasa transportasi modern karena kepadatan lalu lintas dan frekuensi kereta yang tinggi.
Baca Juga: Anggota DPR H. Sudjatmiko Ajak Gotong Royong di Harkitnas ke-118
“Kecelakaan beruntun yang berujung tabrakan KA dengan KRL menunjukkan bahwa pembangunan flyover tidak bisa lagi ditunda,” ujar Sudjatmiko di Stasiun Bekasi Timur, Jumat (22/5/2026).
Korban Jiwa dan Lumpuhnya Jalur
Berdasarkan kronologi, kecelakaan bermula dari insiden taksi Green SM di perlintasan sebidang. Kejadian itu mengganggu operasional KRL hingga berhenti. Dari belakang, KA Argo Bromo Anggrek kemudian menabrak KRL tersebut. Proses evakuasi melumpuhkan perjalanan kereta lintas Bekasi–Cikarang.
Berdasarkan data yang terhimpun dari berbagai sumber mencatat 16 korban jiwa dan puluhan luka-luka. Sudjatmiko menegaskan perlintasan sebidang di jalur sibuk itu berisiko tinggi terhadap keselamatan publik.
Anggaran dan Evaluasi Sistem
Komisi V DPR akan mendorong dukungan anggaran serta pengawalan kebijakan. Pembangunan flyover atau underpass di titik rawan diminta menjadi prioritas nasional. Ia juga meminta evaluasi sistem persinyalan dan koordinasi pengamanan perlintasan.
“Negara harus hadir memastikan tragedi serupa tidak terulang. Modernisasi transportasi bukan hanya soal kecepatan, tetapi nyawa masyarakat,” tutup Sudjatmiko.
Komisi V DPR Sudjatmiko, Juga menyampaikan apresiasi kepada Basarnas, BPBD, kepolisian, dan PT KAI yang bergerak cepat melakukan evakuasi dalam kondisi sulit. Tragedi Bekasi akan menjadi momentum evaluasi nasional keselamatan perkeretaapian, khususnya di kawasan urban padat seperti Jabodetabek.











