Sementara itu, Iran disebut mengalami kehancuran ekonomi dengan inflasi di atas 40 persen dan depresiasi mata uang rial mendekati 95 persen. Di pihak AS, beban perang berisiko menambah utang nasional yang telah melampaui US$35 triliun.
Untuk mengantisipasi risiko, Noviardi mendorong pemerintah mempercepat diversifikasi impor energi ke negara seperti Qatar, Arab Saudi, dan Australia, serta memperkuat cadangan devisa di atas US$150 miliar. Stimulus berupa bantuan langsung tunai bagi kelompok rentan juga dinilai perlu disiapkan.
“Koordinasi solid antara BI dan Kemenkeu sangat penting. Komunikasi kebijakan yang kredibel akan mencegah kepanikan pasar,” pungkasnya.
Ikuti berita terkini di Google News, klik di sini.











Komentar ditutup.