“Ini alarm keras bagi Indonesia yang masih menjadi pengimpor minyak bersih dengan ketergantungan impor mencapai 50 persen,” tegasnya.
Noviardi menjelaskan, lonjakan harga minyak akan membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melalui membengkaknya subsidi energi. Pemerintah disebutnya berada dalam dilema fiskal: menaikkan harga energi berisiko memicu inflasi hingga 5 persen, sementara jika tidak, defisit anggaran kian melebar.
Di sektor moneter, tekanan terhadap rupiah dinilai tak terhindarkan. Arus modal keluar (capital outflow) ke aset aman seperti dolar AS berpotensi memperlemah nilai tukar dan memicu koreksi tajam di Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) serta pasar obligasi. Bank Indonesia disebut bakal dihadapkan pada pilihan sulit antara intervensi devisa atau menaikkan suku bunga.
Dampak lanjutan juga akan dirasakan sektor riil. Kenaikan biaya energi dan logistik berpotensi mengerek harga impor bahan baku dan pangan, menggerus daya beli masyarakat, serta menekan margin industri manufaktur.











Komentar ditutup.