Menu

Mode Gelap
API-IMA Tegaskan Kejelasan Proses Transisi Tata Kelola Ekspor Tekanan pada Saham TPIA Kian Dalam, Investasi Rp100 Juta Tersisa Rp25,6 Juta Keselamatan Perjalanan Dimulai dari Kedisiplinan di Perlintasan Sebidang Yoona Gelar Acara Olahraga dan Kebersamaan Jelang Ultah ke-4 Liburan Keluarga Idul Adha yang Sempurna di Aston Imperial Bekasi Akhir Pekan Dimulai Lebih Awal di Aston Imperial Bekasi

Seni & Budaya

Festival Budaya Tionghoa di Sumut Jadi Simbol Kebhinekaan

badge-check


					Festival Budaya Tionghoa di Sumut Jadi Simbol Kebhinekaan Perbesar

Matrasnews.com – Menparekraf, Sandiaga Salahuddin Uno, berharap Festival Budaya Tionghoa Indonesia yang digelar di Kota Medan, Sumatera Utara, bisa menjadi simbol kebhinekaan untuk membangkitkan ekonomi dan membuka lapangan kerja.

Menparekraf Sandiaga saat menghadiri Festival Budaya Tionghoa Indonesia di Restoran Ria, Medan, Kamis (3/2/2022) mengatakan festival ini diharapkan akan memberikan banyak dampak yang positif, melestarikan tradisi khas masyarakat Tionghoa, serta sarana pemersatu dalam kebhinekaan khususnya masyarakat Medan dan sekitarnya.

“Saya berharap Festival Budaya Tionghoa ini, mampu menjadi pemersatu dalam bingkai kebhinekaan untuk sama-sama membangkitkan ekonomi dan membuka lapangan kerja seluas-luasnya di tengah pandemi,” ujarnya.

Menparekraf Sandiaga mengaku dirinya sudah tidak asing lagi dengan perayaan-perayaan dan budaya Tionghoa. Lantaran ia pernah tinggal di Singapura selama 6 tahun. Di sana saat perayaan Imlek, lanjut Sandiaga, kota selalu kosong karena masyarakatnya merayakan Imlek keluar daerah salah satunya Kota Medan yang menjadi tempat favorit.

“Saat perayaan Imlek, kota-kota di sana selalu kosong, mereka banyak yang datang dan merayakan Imlek di sini. Ini suatu tradisi yang menjadi daya tarik wisata khususnya di tahun 2022 yang menjadi simbol kebangkitan ekonomi Indonesia,” katanya.

Sandiaga juga selalu ingat beberapa hal mengenai budaya Tionghoa. Pertama saat Imlek pasti identik dengan Angpao, ini ada benang merahnya dengan budaya gotong royong dan saling peduli.

“Kedua budaya yang selalu ingat dari mentor saya dan itu tidak akan pernah lupa adalah saat bertemu masyarakat Tionghoa selalu saya ditanya sudah ‘Cia’ belum? atau yang artinya sudah makan belum,” ujarnya.

Dan yang ketiga, lanjut Menparekraf, saat perayaan Imlek atau festival lainnya selalu berbicara tentang health and prosperity atau kesehatan dan keberkahan. Untuk itu Ia ingin mengajak semua di tengah pandemi untuk terus berinovasi, beradaptasi ,dan berkolaborasi.

“Event yang kita kolaborasikan ini harus menghadirkan sisi edukasi terkait sejarah dan budaya. Setelah itu juga ada hiburannya, seperti tadi di balik tarian barongsai yang multietnik di bawah Yayasan Sultan Iskandar Muda,” katanya.

Kemudian Menparekraf juga berpesan setiap event harus memiliki empowerment untuk memberdayakan masyarakat setempat di setiap festival. Sehingga festival-festival ini akan menghidupkan kembali sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

“Yang terakhir adalah engagement untuk meningkatkan keterikatan kita kepada masyarakat. Namun tetap menerapkan CHSE,” katanya.

(her)

Baca Lainnya

Kelenteng Tian Fu Gong, Gubernur Pramono: PIK 2 Bisa Jadi Destinasi Wisata Religi dan Budaya

19 Mei 2026 - 11:24 WIB

Tari Topeng Cirebon, Menyuguhkan Keindahan dalam Gerak

3 Mei 2026 - 01:13 WIB

AMKI Kartini Award 2026 Menobatkan 11 Perempuan Inspiratif di Era Digital

30 April 2026 - 01:37 WIB

Wamen Ekraf Apresiasi Kolaborasi Kreatif Aniwayang Live di Museum Nasional

29 April 2026 - 02:03 WIB

Ribuan Penari Meriahkan CFD Bekasi, Ronggeng Nyentrik Jadi Primadona

27 April 2026 - 01:24 WIB

Trending di Seni & Budaya