MATRASNEWS, JAKARTA — Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (IA-ITB) Papua–Papua Barat mendorong pengelolaan kekayaan mineral dan minyak serta gas bumi (migas) untuk mempercepat pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Papua.
Pesan tersebut mengemuka dalam seminar nasional bertajuk “Potensi Mineral dan Migas sebagai Akselerator Pembangunan di Tanah Papua” di JS Luwansa Hotel and Convention Center, Jakarta, Rabu, 21 Oktober 2026.
Ketua IA-ITB Papua–Papua Barat, Agustin Peranginangin, menilai potensi emas, tembaga, nikel, dan migas dapat menggerakkan ekonomi daerah. Namun, pengelolaannya perlu memperkuat kualitas sumber daya manusia (SDM), menciptakan lapangan kerja, serta memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal.
Kesenjangan Pembangunan Manusia Jadi Sorotan
Moderator seminar, Yusak Reba, praktisi hukum sekaligus dosen Fakultas Hukum Universitas Cenderawasih, menyoroti kesenjangan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di enam provinsi di Tanah Papua.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 yang tercantum dalam materi seminar, IPM Papua mencapai 74,69. Papua Barat Daya mencatat 70,55, Papua Selatan 69,54, Papua Barat 68,48, dan Papua Tengah 60,64. Sementara itu, Papua Pegunungan berada pada angka 54,91.
Sebagai perbandingan, IPM Indonesia pada 2025 mencapai 75,90. Data tersebut menunjukkan bahwa sejumlah wilayah Papua masih menghadapi tantangan dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Kondisi ini menegaskan bahwa kekayaan sumber daya alam tidak otomatis menghasilkan kesejahteraan yang merata. Pemerintah dan pelaku industri perlu memperkuat akses pendidikan, layanan kesehatan, infrastruktur, serta pelatihan tenaga kerja lokal.
Perlu Kolaborasi dan Nilai Tambah bagi Daerah
Melalui seminar tersebut, IA-ITB Papua–Papua Barat mendorong kolaborasi pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat adat, dan pemangku kepentingan lainnya.
Kolaborasi itu diharapkan mampu menarik investasi berkualitas, mengembangkan industri lokal, dan memperluas kesempatan kerja bagi masyarakat Papua. Pengelolaan sumber daya alam juga perlu memperhatikan kelestarian lingkungan serta hak masyarakat adat.
Agustin berharap forum tersebut menghasilkan gagasan yang mendorong pengelolaan kekayaan alam secara bertanggung jawab dan berkelanjutan.
Tantangan utama pembangunan Papua bukan sekadar meningkatkan produksi mineral dan migas, melainkan memastikan kekayaan tersebut menghasilkan manfaat nyata bagi penduduk setempat. Keberhasilan pembangunan perlu diukur melalui peningkatan kualitas hidup, kesempatan kerja, dan pemerataan kesejahteraan, bukan hanya nilai investasi atau volume produksi.
IA-ITB Papua–Papua Barat berharap seminar ini menjadi langkah awal untuk memperkuat strategi pembangunan yang menghubungkan potensi sumber daya alam dengan peningkatan kualitas SDM dan kesejahteraan masyarakat.
Ikuti berita terkini di Google News










