Menu

Mode Gelap
Masa Depan Ekonomi Halal Indonesia: Antara Potensi dan Tantangan Tata Kelola Kejari Bogor Tahan ASN Tersangka Korupsi RSUD Parung Capai Rp9,17 Miliar Save the Children: Darurat Perlindungan Anak di Tengah Ancaman Kekerasan dan Ketertinggalan Pendidikan WVI Soroti 5 Isu Penting Terkait Perlindungan Anak Jelang Hari Anak Nasional White Rock Beach Club Named Official Main Venue of Coinfest Asia 2026, The World’s Crypto Festival Jakarta Hentikan Open Dumping di Bantargebang

Info Akademia

Masa Depan Ekonomi Halal Indonesia: Antara Potensi dan Tantangan Tata Kelola

badge-check

Masa Depan Ekonomi Halal Indonesia: Antara Potensi dan Tantangan Tata Kelola Perbesar


Universitas Paramadina dan CSED INDEF Gelar Diskusi Publik, Soroti Perlunya Ekosistem Terintegrasi dan Penguatan Tata Kelola

MATRASNEWS, JAKARTA – Diskusi publik bertajuk “Masa Depan Ekonomi Halal RI” yang digelar di Kampus Universitas Paramadina, Cipayung, Jakarta, pada Rabu (22/7) mengungkap fakta mengejutkan: Indonesia justru mengalami penurunan peringkat dalam Global Islamic Economy Indicator (GIEI) 2025/2026. Meskipun nilai ekonomi halal dunia mencapai USD 2,6 triliun pada 2024 dan diproyeksikan naik menjadi USD 3,56 triliun pada 2029, Indonesia turun dari peringkat ketiga ke posisi keempat.

Penurunan peringkat ini menjadi pukulan telak bagi negara dengan populasi Muslim terbesar dunia. Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini, membuka acara dengan menegaskan komitmen institusinya melalui Program Magister dan Doktor Manajemen Keuangan Syariah, serta pengakuan atas kontribusi nyata M. Arsjad Rasjid P.M. melalui wakaf Kampus Cikarang beserta tiga gedungnya.

Moderator diskusi, Dr. Handi Risza, Wakil Ketua CSED INDEF, menyampaikan bahwa potensi pasar saja tidak cukup membawa Indonesia menjadi pemimpin ekonomi halal dunia. “Indonesia memiliki potensi yang sangat besar, namun potensi tersebut harus didukung oleh ekosistem yang saling terintegrasi,” ujarnya.

Handi memaparkan tiga pilar utama percepatan ekonomi halal nasional: Capital, Governance, dan Inclusivity (CGI). Dari sisi Capital, Indonesia masih menghadapi keterbatasan inovasi dan variasi produk keuangan syariah dibandingkan Malaysia. Dari aspek Governance, penguatan regulasi, kelembagaan, dan koordinasi antarinstansi menjadi pekerjaan rumah besar. Sementara dari sisi Inclusivity, manfaat ekonomi syariah harus dirasakan lebih luas melalui pemberdayaan sektor riil dan optimalisasi instrumen ZISWAF (Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf).

Fakta menunjukkan pangsa pasar industri keuangan syariah Indonesia masih di kisaran 7 persen, jauh di bawah potensi yang dimiliki. Handi juga menyoroti bahwa pengembangan industri halal nasional masih tertinggal dibandingkan Uni Emirat Arab yang dinilai berhasil membangun ekosistem halal lebih komprehensif.

M. Arsjad Rasjid P.M., Ketua Dewan Pertimbangan Kadin Indonesia sekaligus Ketua Umum Forum Bisnis Negara Islam Asia Pacific (B57+ Asia Pacific Chapter), memberikan perspektif mengejutkan. Nilai ekonomi halal dunia pada 2024 mencapai USD 2,6 triliun, sekitar 12 kali lipat realisasi APBN Indonesia yang hanya USD 211,4 miliar.

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Wagub Rano Karno Dorong Ruang Publik Inklusif di Tengah Tantangan Reformasi

22 Juli 2026 - 00:04 WIB

Seminar Universitas Paramadina dan Komisi X DPR RI Bahas Transformasi Pendidikan di Era AI

21 Juli 2026 - 00:05 WIB

Kampus Merah Putih: Mengukur Dampak Diskursus, Bukan Sekadar Ranking

20 Juli 2026 - 00:04 WIB

Gubernur DKI Jakarta Resmikan Gedung SMA Labschool Ciracas

20 Juli 2026 - 00:02 WIB

60 Ribu Calon Mahasiswa Baru Tidak Daftar Ulang

17 Juli 2026 - 07:41 WIB

Trending di Info Akademia