Matras News, Gaya Hidup Sehat – Obesitas sering dikategorikan sebagai masalah penampilan dan kecantikan. Padahal ini termasuk masalah medis yang perlu segera ditangani. Pasalnya obesitas adalah salah satu kondisi medis kompleks yang dapat terdiri dari lemak menumpuk di dalam tubuh dan dapat meningkatkan masalah kesehatan serius seperti diabetes dan penyakit jantung bila dibiarkan.
Di Indonesia kasus obesitas terus mengalami peningkatan setiap tahun. Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, diperkirakan penduduk Indonesia yang mengalami obesitas sekitar 21,8%. Angka ini menunjukkan peningkatan sekitar 3% dari data Riskesdas tahun 2013 yang mencatat ada sekitar 19,8%.
Obesitas tidak hanya menjadi masalah kesehatan yang kompleks di Indonesia. Menurut data WHO tahun 2016, setidaknya ada 650 juta penduduk usia dewasa di seluruh dunia mengalami obesitas. Banyaknya kasus obesitas ini tentu disebabkan oleh beragam hal. Namun, penyebab utamanya akibat dari tidak adanya keseimbangan antara asupan energi atau kalori dan energi yang dikeluarkan oleh tubuh.
Supaya lebih memahami tentang obesitas dan risiko yang menyertainya. Berikut ini Kavacare telah merangkum beberapa informasi tentang obesitas yang wajib Anda ketahui
Apa Faktor Risiko Obesitas?
Selain kurang seimbang antara kalori dan energi yang dikeluarkan oleh tubuh, obesitas juga memiliki beberapa faktor pemicu lain. Berikut lima faktor risiko obesitas yang perlu diketahui.
Faktor genetik
Ada beberapa gen yang memiliki keterkaitan dengan obesitas. Gen tersebut mempengaruhi proses metabolisme tubuh dalam mengubah makanan menjadi energi atau lemak. Bahkan gen ini dapat mempengaruhi preferensi gaya hidup pada manusia.
Salah satu contohnya adalah sindrom Prader-Willi. Ini adalah salah satu kelainan genetik langka yang memiliki gejala nafsu makan tinggi dan makan secara berlebihan. Membuat penderitanya lebih mudah mengalami kenaikan berat badan abnormal dan menjadi obesitas.
Faktor alasan medis
Kondisi medis tertentu bisa menjadi pemicu seseorang mengalami obesitas. Beberapa penyakit seperti sindrom metabolik dan sindrom ovarium polikistik bisa menyebabkan orang mudah mengalami kenaikan berat badan.
Selain itu, kondisi tiroid yang kurang aktif juga bisa memicu kenaikan berat badan secara abnormal. Pasalnya kelenjar ini memiliki fungsi untuk membantu metabolisme dalam tubuh. Terutama dalam proses mengubah makanan menjadi sebuah energi.
Pengaruh obat-obatan
Penggunaan obat-obatan tertentu seperti anti-depresan juga bisa meningkatkan risiko obesitas. Hal ini terjadi karena efek samping dari penggunaan obat-obatan yang mengganggu sinyal kimiawi. Sehingga memberi sinyal lapar pada otak penggunanya, meskipun sebenarnya baru saja makan dua jam yang lalu.
Berikut beberapa obat yang mempengaruhi kenaikan berat badan.
Obat kontrasepsi (pil KB)
Insulin
Obat beta-blocker
Antipsikotik
Steroid
Glukokortikoid
Faktor lingkungan
Lingkungan juga memiliki pengaruh besar terhadap obesitas. Ini karena lingkungan hidup memiliki kontribusi dalam pengaturan pola makan dan aktivitas olahraga.
Menurut penelitian, lingkungan hidup yang penuh dengan restoran makanan cepat saji akan membuat orang lebih mudah mengalami obesitas. Sementara orang yang hidup di lingkungan yang memiliki banyak ruang hijau lebih mudah melakukan kegiatan fisik. Sehingga cenderung bisa mengontrol kenaikan berat badan.
Faktor usia
Obesitas memang bisa dialami oleh semua kalangan, baik itu anak-anak, remaja, dewasa, hingga manula. Namun seiring bertambahnya usia, aktivitas gerak akan berkurang. Hal inilah yang dapat memicu obesitas pada usia lansia.
Selain itu, dengan bertambahnya umur, massa otot pada tubuh manusia akan berkurang. Massa otot yang rendah ini juga menyebabkan metabolisme tubuh mengalami penurunan. Akibatnya kalori menjadi lebih sedikit yang diproses dan akan berakhir menjadi lemak.
Tanda dan Gejala Obesitas
Secara kasat mata, obesitas dapat terlihat dari tumpukan lemak di beberapa area tertentu. Misalnya seperti pada area pinggang dan lengan. Juga adanya stretch mark di area payudara atau punggung untuk anak-anak.
Selain tanda-tanda yang bisa dilihat, beberapa penderita obesitas bisa mengalami beberapa gejala sebagai berikut:
Sesak napas.
Berkeringat lebih daripada biasanya.
Merasa sering lelah.
Mendengkur.
Nyeri pada punggung dan beberapa area persendian lainnya.
Mengalami masalah psikologi seperti rendah diri serta depresi.
Jika obesitas terjadi pada anak-anak, penderitanya akan mengalami tanda dan gejala sebagai berikut:
Stretch mark pada area pinggul dan pinggang.
Terdapat timbunan lemak di sekitar dada dekat dengan payudara.
Kulit gelap di sekitar leher (Acanthosis nigricans).
Sesak napas.
Sembelit.
Anak mengalami sleep apnea.
GERD.
Pubertas dini pada anak perempuan dan keterlambatan pubertas bagi anak laki-laki.
Memiliki masalah ortopedi.
Bagaimana cara diagnosis penderita obesitas?
Pada umumnya diagnosa pada penderita obesitas menggunakan Body Mass Index (BMI). Ini cara pengukuran sederhana untuk mengetahui apakah berat badan telah ideal atau sesuai dengan tinggi badan.
Di mana penghitungan BMI dilakukan dengan cara; berat badan dibagi dengan tinggi badan dalam ukuran meter yang dikuadratkan. Lalu hasil dari perhitungan tersebut dicocokan dengan tabel ukuran BMI.
Berikut klasifikasi BMI untuk masyarakat seluruh dunia.
| Kategori | BMI (Body Mass Index) |
| Kurus (underweight) | Kurang dari 18,5 kg/m² |
| Normal | 18,5 kg/m² sampai dengan 24,9 kg/m² |
| Pra-obesitas | 25,0 kg/m² sampai dengan 29,9 kg/m² |
| Obesitas tingkat I | 30,0 kg/m² sampai 34,9 kg/m² |
| Obesitas tingkat II | 35,0 kg/m² sampai dengan 39,9 kg/m² |
| Obesitas tingkat III | Lebih dari 40,0 kg/m² |
Lalu ada klasifikasi BMI yang dimodifikasi untuk penduduk Asia. Hal ini karena banyak masyarakat Asia yang menderita penyakit kardiovaskular walaupun nilai BMI mereka di bawah pra-obesitas. Oleh karena itu, WHO memodifikasi tabel BMI untuk orang Asia. Berikut tabel klasifikasinya.
| Kategori | BMI (Body Mass Index) |
| Kurus | Kurang dari 18,5 kg/m² |
| Normal | 18,5 kg/m² sampai dengan 22,9 kg/m² |
| Kelebihan berat badan | 23,0 kg/m² sampai 27,5 kg/m² |
| Obesitas | Lebih dari 27,5 kg/m² |
Selain untuk Asia, ada juga BMI yang dimodifikasi untuk penduduk Indonesia. Berikut adalah daftar indeks massa tubuh BMI alias IMT untuk penduduk Indonesia.
| Kategori | IMT (Indeks Massa Tubuh) | ||
| Kurus | Tingkat berat | Kurang dari 17,0 kg/m² | |
| Tingkat ringan | 17,0 kg/m² sampai dengan 18,4 kg/m² | ||
| Normal | 18,5 kg/m² sampai 25,0 kg/m² | ||
| Gemuk | Tingkat ringan | 25,1 kg/m² sampai dengan 27,0 kg/m² | |
| Tingkat berat (obesitas) | Lebih dari 27,0 kg/m² | ||
Selain BMI, dokter juga akan menggunakan pengukuran lingkar pinggang. Di mana pada umumnya, obesitas sering terjadi pada laki-laki dengan ukuran lingkar pinggang lebih dari 102 cm. Sementara perempuan pada ukuran lebih dari 89 cm.
Dokter pun akan melakukan beberapa prosedur tes lanjutan guna mengetahui apakah penderita obesitas memiliki risiko komplikasi. Berikut beberapa tes lanjutan yang akan dilakukan:
Tes tekanan darah.
Pemeriksaan kadar gula darah dan kolesterol di dalam sampel darah.
Terapi untuk Penderita Obesitas
Apabila Anda dinyatakan sebagai penderita obesitas, dokter tentu akan menyarankan langkah-langkah untuk menurunkan berat badan. Misalnya seperti mengontrol pola makan dan melakukan aktivitas olahraga.
Selain itu, dokter kemungkinan juga akan menawarkan konseling atau terapi perilaku. Terapi ini bertujuan untuk membantu pasien dalam proses penurunan berat badan. Metode-metode pada terapi akan membantu penderita obesitas dalam memahami hal-hal yang meningkatkan nafsu makan.
Proses terapi perilaku ini juga bisa membantu dalam pengelolaan stres dan masalah pada faktor psikologis lain. Sehingga penderita dapat menghindari stress eating yang memicu obesitas.
Dokter mungkin akan meresepkan obat-obatan untuk membantu menurunkan berat badan. Juga demi mengatasi faktor pemicu lainnya seperti menekan sinyal nafsu makan ke otak. Di mana ini akan sangat membantu beberapa orang yang memiliki faktor risiko seperti penderita sindrom Prader-Willi.
Namun, bila seseorang telah dinyatakan sebagai penderita obesitas III, dokter mungkin akan menyarankan untuk melakukan operasi bariatrik. Prosedur ini menjadi langkah tingkat lanjut yang cukup efektif dan signifikan dalam menurunkan berat badan. Sebab, operasi bariatrik mengubah kinerja sistem pencernaan dan membatasi jumlah kalori yang bisa tubuh Anda serap.
Komplikasi Penyakit dari Obesitas
Apabila obesitas tidak segera ditangani, ada beberapa penyakit komplikasi yang bisa menyerang tubuh penderita. Berikut daftar penyakit komplikasi yang berkaitan dengan obesitas:
Hipertensi atau tekanan darah tinggi.
Kolesterol.
Diabetes tipe II.
Stroke.
Penyakit jantung koroner.
Penyakit kantung empedu.
Sleep apnea.
Osteoartritis.
Kanker.
Pertanyaan Populer Seputar Obesitas
Di bawah ini ada beberapa pertanyaan yang populer mengenai obesitas:
Apakah obesitas berarti diabetes?
Tidak. Obesitas adalah kondisi lemak yang menumpuk di dalam tubuh yang menjadi salah satu faktor pemicu dari diabetes. Sementara diabetes sendiri adalah penyakit akibat dari kadar gula darah atau glukosa yang tinggi.
Berikut cara menghitung BMI yang mudah menggunakan satuan kg dan m:
BMI = BB (kg) : TB² (m)
Sebagai contoh, jika Cika memiliki berat badan 50kg dan tinggi badan 160cm, maka penghitungan BMI-nya:
BMI = BB : TB²
BMI = 50 : (1,6 × 1,6)
BMI = 50 : 2,56
BMI = 19,54 kg/m²
Jadi, hasil BMI Cika ialah 19,54 kg/m². Jika, Cika adalah penduduk Indonesia maka nilai BMI-nya termasuk kategori normal.
Apa bahaya obesitas bagi anak?
Bila anak mengalami obesitas dini, berikut beberapa risiko kesehatan yang bisa mereka alami.
Anak mungkin akan mengalami gangguan mental seperti psikososial dan depresi.
Diabetes.
Kanker.
Asma.
Penyakit jantung.
Penyakit hati.
Apakah junk food menyebabkan obesitas?
Iya. Menurut beberapa penelitian, mengonsumsi junk food bisa meningkatkan risiko obesitas. Ini karena kandungan lemak dan gula yang tinggi pada junk food menyebabkan makanan sulit diubah menjadi energi. Sementara kandungan gula yang tinggi membuat tubuh lebih mudah merasa lapar.
Jadi, dapat disimpulkan jika mengonsumsi junk food terus-menerus, tubuh akan mengalami kenaikan berat badan. Sebab, proses metabolisme junk food yang lambat. Sehingga Anda perlu mengurangi konsumsi junk food dan mulai menerapkan pola hidup sehat. Guna menurunkan berat badan dan terhindar dari obesitas.
Oleh karena itu, Kavacare hadir untuk membantu Anda terbebas dari obesitas. Kami bisa mendampingi Anda memulai pola hidup sehat hingga memberikan pendampingan medis di rumah oleh perawat maupun dokter. Anda juga bisa melakukan konsultasi secara online mengenai pola hidup sehat dengan menghubungi Kavacare Support di nomor WhatsApp +6281-1144-6777.
Mari mulai hidup sehat bersama dengan Kavacare dan dapatkan pelayanan terbaik dari kami untuk menjaga kesehatan Anda dari obesitas!
Artikel ini telah direview oleh dr. Eddy Wiria, PhD
Tentang dr. Eddy Wiria, PhD (Co-Founder & CEO Kavacare)
Dr. Eddy Wiria, PhD adalah dokter dan peneliti lulusan dokter FKUI (2006), Jakarta dan Amsterdam Medical Center (2017), Amsterdam dan pernah menjadi staf pengajar di FKUI. Beliau menyelesaikan program doktoralnya tahun 2013 di Leiden University Medical Center, Universitas Leiden, Belanda.
Selain berpengalaman di klinik dokter keluarga di Jakarta, dr. Eddy juga pernah mengelola laboratorium lapangan FKUI-LUMC di Nangapanda, Flores. Sejak 2010 dr. Eddy menetap di Belanda, dan sejak 2015 berpraktik di berbagai rumah sakit dan menjadi dokter di layanan Elderly Care (Psikogeriatri, Somatik dan Rehabilitasi) di berbagai organisasi di Belanda.
Dari berbagai pengalamannya tersebut dan berkomunikasi dengan keluarga, sahabat, dan kolega di Belanda dan Indonesia, disadari adanya urgensi kebutuhan layanan homecare yang baik di Indonesia, dr. Eddy memutuskan kembali ke Indonesia untuk membangun layanan kesehatan di rumah yang komprehensif. (*/zl)






