Lalu “Glow Light” dan “Electric Nights” menjadi fase akselerasi rock kolektif bertemu DJ set, hingga band-band lokal lintas genre mulai berdiri di panggung yang sama. Bukan lagi sekadar event, melainkan pernyataan bahwa Bekasi memiliki suara.
Puncak fase pencarian itu tercermin dalam “Kita Cari Ruang” dan “Bike Beat”. Di sini, Specteve tidak hanya berbicara soal musik, tetapi juga identitas kota. Komunitas motor custom, kultur koplo, hip-hop, hingga sesi talkshow hadir sebagai elemen pengikat.
Narasinya menjadi lebih dalam tentang siapa yang dirayakan, dari mana berasal, dan bagaimana ruang itu seharusnya dimiliki bersama.
Di balik perjalanan tersebut, ada satu benang merah konsisten visi Muhammad Calvin. Sejak 2023, ia tidak hanya berperan sebagai festival director secara teknis, tetapi juga sebagai kurator rasa.
Calvin membaca denyut kota yang kerap luput bahwa Bekasi bukan sekadar kota penyangga, melainkan ruang dengan identitas kultural yang terus tumbuh.
Langkah besar mulai terlihat saat rangkaian showcase 2025 digelar. Dari “Melodi Pasien” yang menghadirkan Rumahsakit bersama Jimi Multhazam di Bekasi, hingga “Distraksi Ruang Hampa” bersama Efek Rumah Kaca dan Danilla Riyadi di Jakarta.
Perjalanan berlanjut ke Bandung lewat “Visible Time” yang mempertemukan The SIGIT dan Denisa. Setiap kota membawa energi berbeda, namun satu kesamaan, Specteve mulai berbicara dalam skala yang lebih luas.
Puncaknya, pada 1 November 2025, Parking Ground Revo Mall Bekasi menjadi titik kulminasi. Nama-nama seperti Sore, Monkey to Millionaire, Ada Band, Perunggu, FSTVLST, hingga The SIGIT tampil dalam satu tema besar:
“Celebration of Us”. Sebuah perayaan yang bukan hanya tentang deretan pemain, tetapi tentang perjalanan kolektif yang akhirnya menemukan bentuknya.
Ikuti berita terkini di Google News, klik di sini.











