Saat Macan Tutul Jadi Penjaga Keseimbangan Hutan Ujung Kulon
MATRASNEWS, Taman Nasional Ujung Kulon, Banten — Pusat perhatian konservasi selama ini tertuju pada Badak Jawa yang nyaris punah. Padahal, di puncak rantai makanan hutan purba ini, ada peran kunci lain yang tak kalah penting: Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas).
Sebagai predator puncak, satwa berkategori Kritis (Critically Endangered) dalam Daftar Merah IUCN ini justru memegang kendali keseimbangan ekosistem di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), kawasan yang menyimpan hutan hujan dataran rendah paling luas tersisa di Pulau Jawa.
Berbeda dengan badak yang bergerak lambat di permukaan, Macan Tutul Jawa mengandalkan strategi sebagai ambush predator. Kepadatan hutan dataran rendah menjadi medan tempur ideal bagi kucing besar ini. Mereka memanfaatkan kemampuan memanjat pohon yang mumpuni untuk menyergap mangsa dari atas kanopi, sebelum akhirnya melompat turun dan mengakhiri perburuan dalam sekejap.
Hasil analisis kotoran (scat analysis) para peneliti mengungkapkan menu favorit predator ini: kancil (Tragulus javanicus), kijang (Muntiacus muntjak), anakan babi hutan (Sus scrofa), hingga primata seperti monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) dan lutung (Trachypithecus auratus). Keberadaan mangsa-mangsa ini menjadi penentu utama kelangsungan hidup Macan Tutul di habitatnya.
Kelestarian Macan Tutul Jawa tidak bisa dilepaskan dari kondisi habitat dan populasi satwa mangsanya. Kepala Balai TNUK, Ardi Andono, S.TP., M.Sc., menegaskan bahwa ancaman terhadap ekosistem hutan dataran rendah berpotensi memicu konflik baru.
“Jika ekosistem hutan dataran rendah kita terganggu dan populasi pakan alami seperti kijang atau kancil menurun, potensi konflik satwa dengan manusia di zona penyangga akan meningkat. Menjaga kelestarian habitat mereka adalah harga mati agar sang predator puncak tetap berada di rumahnya,” tegas Ardi.












Komentar ditutup.