Sikap mengambang ini memicu kekhawatiran di tengah masyarakat Bantargebang yang selama ini menjadi garda terdepan dampak lingkungan sampah. Warga berharap proyek bernilai triliunan ini tidak hanya memposisikan mereka sebagai penonton, melainkan menjadi prioritas utama dalam bursa ketenagakerjaan, baik pada tahap konstruksi maupun operasional.
Di sisi lain, Tri Adhianto optimistis bahwa PSEL yang berdiri di lahan seluas 5,6 hektare ini akan membawa dampak ekonomi sirkular yang masif bagi Kota Bekasi. PSEL dirancang tidak hanya fokus pada pemusnahan 1.000 hingga 1.500 ton sampah per hari menggunakan teknologi moving grate incinerator, tetapi juga memaksimalkan produk turunan dari sisa pembakaran.
“PSEL pembangunannya bukan hanya terfokus pada pengolahan sampahnya. Tetapi juga akan dibangun pabrik residu hasil dari pembakaran sampah itu sendiri,” jelas Tri.
Menurutnya, proses pembakaran akan menghasilkan residu sekitar 25 persen. Residu ini nantinya akan diolah kembali menjadi material bernilai guna.
“Bisa dimanfaatkan untuk beberapa barang seperti paving block, dan dapat digunakan seperti pasir-pasir semen dan lain-lain. Selain itu, biji besinya juga bisa kita manfaatkan,” tambahnya.
Sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) yang resmi dikembangkan tahun 2026 ini, PSEL Kota Bekasi memikul beban besar untuk mengurangi ketergantungan akut pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumur Batu dan Bantargebang yang sudah kelebihan muatan . Selain mereduksi volume sampah secara signifikan, fasilitas modern ini diproyeksikan mampu menghasilkan energi listrik bersih sebesar 18,5 MW.
Meskipun potensi reduksi sampah dan dampak ekonomi dari pabrik residu sangat menjanjikan, pemerintah kota dan pihak pengembang kini menghadapi tantangan besar untuk segera merumuskan komitmen hitam di atas putih terkait kuota pekerja lokal sebelum alat berat mulai beroperasi.












Komentar ditutup.