Menu

Mode Gelap
Masyarakat Tak Panic Buying Jelang Idulfitri, Stok BBM Aman Pekan Depan Kendaraan Truk Terkena Pembatasan di Ruas Tol dan Jalan Arteri Pemprov DKI Gelontorkan Rp1,62 Triliun untuk KJP Plus Tahap I 2026 Update Pencarian Longsor TPA Bantargebang: Korban Meninggal Jadi Enam Orang, Satu Masih Hilang Swiss-Belresidences Kalibata Rilis Promo Lebaran Rayakan Idul Fitri Bersama BWH Hotels Indonesia

News

Rektor Paramadina Soroti Distorsi Fungsi PTN: Dari Riset Menjadi Industri Kursus Massal

badge-check


					Rektor Paramadina Soroti Distorsi Fungsi PTN: Dari Riset Menjadi Industri Kursus Massal Perbesar

MATRASNEWS, JAKARTA – Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini, PhD, melayangkan kritik pedas terhadap praktik diskriminatif dan kebijakan yang dinilai salah arah dalam pendidikan tinggi Indonesia. Kritik disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) dengan Komisi X DPR RI di Senayan.

Prof. Didik menilai banyak Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNBH) telah mengalami distorsi fungsi. Alih-alih menjadi pusat riset unggulan, kampus-kampus itu berubah menjadi “industri kursus kuliah massal” untuk mencari pendapatan.

“PTNBH mengalami transformasi menyimpang dari orientasi kualitas menuju ranking global menjadi industri kursus kuliah massal,” tegasnya.

Ia mengungkap data penerimaan mahasiswa baru di sejumlah PTN yang mencapai puluhan ribu, seperti UNESA (26 ribu) serta UB dan UGM (sekitar 18 ribu). Kondisi ini dinilai mendorong kampus menjadi teaching university yang fokus menyerap lulusan SMA secara masif, bukan sebagai produsen ilmu.

Daya Saing Global Terpuruk, PTS Terpinggirkan

Kebijakan ini, menurutnya, berimbas langsung pada daya saing global. Tak satu pun kampus Indonesia masuk 100 besar dunia, sementara NUS dan NTU Singapura berada di puncak 12 besar.

Di sisi lain, kebijakan negara dinilai menciptakan ketimpangan tidak sehat yang mematikan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) perlahan-lahan. Dengan 125 PTN yang menampung 3,9 juta mahasiswa, peran besar masyarakat melalui PTS kian tersingkir.

Usulan Perbaikan Fundamental

Prof. Didik menawarkan sejumlah rekomendasi korektif:

  1. Penerapan student cap (pembatasan mahasiswa) untuk PTN unggulan agar fokus pada selektivitas dan kualitas.
  2. Mengembalikan PTN sebagai universitas riset dengan ekspansi ke program pascasarjana (S2/S3) dan postdoktoral.
  3. Penguatan sistemik PTS melalui insentif fiskal dan matching fund.
  4. Reformasi insentif dosen: prioritaskan publikasi dan paten, bukan jabatan struktural.
  5. Pembangunan klaster riset nasional di bidang strategis.

Peringatannya tegas: tanpa koreksi kebijakan, PTN akan jadi besar namun biasa, banyak PTS kolaps, dan ekonomi nasional kehilangan mesin inovasi.

 

Ikuti berita terkini di Google News, klik di sini.

 

Baca Lainnya

Masyarakat Tak Panic Buying Jelang Idulfitri, Stok BBM Aman

10 Maret 2026 - 03:03 WIB

Masyarakat Tak Panic Buying Jelang Idulfitri, Stok BBM Aman

Pekan Depan Kendaraan Truk Terkena Pembatasan di Ruas Tol dan Jalan Arteri

10 Maret 2026 - 02:29 WIB

Pekan Depan Kendaraan Truk Terkena Pembatasan di Ruas Tol dan Jalan Arteri

Update Pencarian Longsor TPA Bantargebang: Korban Meninggal Jadi Enam Orang, Satu Masih Hilang

10 Maret 2026 - 01:51 WIB

Update Pencarian Longsor TPA Bantargebang Korban Meninggal Jadi Enam Orang, Satu Masih Hilang

Revisi UU ASN Hapus Status PPPK Paruh Waktu, Pemerintah Terapkan Dua Skema Baru

9 Maret 2026 - 01:28 WIB

Banjir Landa Jakarta, Gubernur Pramono: “Menghilangkan Banjir Itu Tidak Mungkin”

9 Maret 2026 - 01:05 WIB

Banjir Landa Jakarta, Gubernur Pramono Menghilangkan Banjir Itu Tidak Mungkin
Trending di News