Menu ✖

Breaking News

News

Rektor Paramadina Soroti Distorsi Fungsi PTN: Dari Riset Menjadi Industri Kursus Massal

badge-check

Rektor Paramadina Soroti Distorsi Fungsi PTN: Dari Riset Menjadi Industri Kursus Massal Perbesar

MATRASNEWS, JAKARTA – Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini, PhD, melayangkan kritik pedas terhadap praktik diskriminatif dan kebijakan yang dinilai salah arah dalam pendidikan tinggi Indonesia. Kritik disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) dengan Komisi X DPR RI di Senayan.

Prof. Didik menilai banyak Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNBH) telah mengalami distorsi fungsi. Alih-alih menjadi pusat riset unggulan, kampus-kampus itu berubah menjadi “industri kursus kuliah massal” untuk mencari pendapatan.

“PTNBH mengalami transformasi menyimpang dari orientasi kualitas menuju ranking global menjadi industri kursus kuliah massal,” tegasnya.

Ia mengungkap data penerimaan mahasiswa baru di sejumlah PTN yang mencapai puluhan ribu, seperti UNESA (26 ribu) serta UB dan UGM (sekitar 18 ribu). Kondisi ini dinilai mendorong kampus menjadi teaching university yang fokus menyerap lulusan SMA secara masif, bukan sebagai produsen ilmu.

Daya Saing Global Terpuruk, PTS Terpinggirkan

Kebijakan ini, menurutnya, berimbas langsung pada daya saing global. Tak satu pun kampus Indonesia masuk 100 besar dunia, sementara NUS dan NTU Singapura berada di puncak 12 besar.

Di sisi lain, kebijakan negara dinilai menciptakan ketimpangan tidak sehat yang mematikan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) perlahan-lahan. Dengan 125 PTN yang menampung 3,9 juta mahasiswa, peran besar masyarakat melalui PTS kian tersingkir.

Usulan Perbaikan Fundamental

Prof. Didik menawarkan sejumlah rekomendasi korektif:

  1. Penerapan student cap (pembatasan mahasiswa) untuk PTN unggulan agar fokus pada selektivitas dan kualitas.
  2. Mengembalikan PTN sebagai universitas riset dengan ekspansi ke program pascasarjana (S2/S3) dan postdoktoral.
  3. Penguatan sistemik PTS melalui insentif fiskal dan matching fund.
  4. Reformasi insentif dosen: prioritaskan publikasi dan paten, bukan jabatan struktural.
  5. Pembangunan klaster riset nasional di bidang strategis.

Peringatannya tegas: tanpa koreksi kebijakan, PTN akan jadi besar namun biasa, banyak PTS kolaps, dan ekonomi nasional kehilangan mesin inovasi.

 

Ikuti berita terkini di Google News, klik di sini.

 

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

RUU Pelindungan Ketenagakerjaan Perluas Hak Pekerja

7 Okt 2026 - 02:46 WIB

RUU Pelindungan Ketenagakerjaan Perluas Hak Pekerja

Usai Lepas Djamari, Dudung Abdurachman Fokus Tangani Karhutla hingga Papua

6 Okt 2026 - 11:40 WIB

Usai Lepas Djamari, Dudung Abdurachman Fokus Tangani Karhutla hingga Papua

Cak Imin Dorong Vida Bekasi Jadi Model Pasar Rakyat Berbasis Kawasan

5 Okt 2026 - 02:06 WIB

Cak Imin Dorong Vida Bekasi Jadi Model Pasar Rakyat Berbasis Kawasan

Perjalanan Panjang POMMSI, Konsolidasi Organisasi Pengemudi Masuki Babak Baru

5 Okt 2026 - 01:21 WIB

Perjalanan Panjang POMMSI, Konsolidasi Organisasi Pengemudi Masuki Babak Baru

POMMSI Gelar Rakor Pertama, Tetapkan Kepengurusan Periode 2026-2031

4 Okt 2026 - 03:30 WIB

POMMSI Gelar Rakor Pertama, Tetapkan Kepengurusan Periode 2026-2031
Trending di News