MATRASNEWS, BEKASI – Rencana Pemerintah Kota Bekasi melalui Dinas Perhubungan bakal menutup pintu masuk dan keluar selatan Stasiun Bekasi di Jalan Juanda dinilai tidak tepat.
Menyikapi penutupan pintu selatan tersebut, Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (GMBI) Kota Bekasi menegaskan, kebijakan yang rencananya akan disosialisasikan pada 28 November 2025 itu justru akan mempersulit masyarakat dan memperparah kemacetan.
Ketua GMBI Kota Bekasi, Abah Zakaria menilai alasan pemerintah menutup pntu selatan dengan dalih mengurai kemacetan tidak tepat. Seharusnya ada kajian terlebih dahulu, sosialisasi saja tidak cukup.
“Penutupan pintu keluar masuk selatan stasiun dinilai mempersulit para penumpang dengan alibi mengurai kemacetan. Padahal saat ini kemacetan membuat perekonomian berjalan,” tegas Zakaria, Rabu (19/11/2025).
Abah Zakaria memprediksi, kebijakan ini akan memusatkan sekitar 90.000 penumpang KAI per hari hanya di pintu utara. Kondisi ini, menurutnya, justru akan menambah kepadatan dan kemacetan di kawasan tersebut.
Zakaria menambahkan, seharusnya Dishub dan PT KAI menyiapkan solusi infrastruktur terlebih dahulu sebelum menutup akses.
“Harusnya alangkah baiknya membuat JPO (Jembatan Penyeberangan Orang) terintegrasi sebelum melakukan sosialisasi tersebut,” ujarnya.
GMBI menilai kebijakan ini kurang memberikan dampak positif dan justru membebani serta memperlambat aktivitas warga.
Zakaria menyatakan, jika pemerintah tidak memberikan solusi terbaik kepada masyarakat, organisasinya siap menggelar aksi penyampaian pendapat secara besar-besaran di Pemkot Bekasi.
Cek Berita lain di Google News

https://demo.pojoksoft.com/kibaran/wp-content/uploads/2024/01/230313-ayla2-160x600-v2.jpg





