MATRASNEWS, JAKARTA — Kereta Cepat Whoosh memasuki tonggak baru dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM) nasional. Sejak September 2026, seluruh kegiatan operasi dan perawatan kereta cepat Jakarta–Bandung telah ditangani secara mandiri oleh tenaga kerja Indonesia.
Pencapaian ini menandai berakhirnya pendampingan langsung tenaga profesional asal Tiongkok setelah proses transfer pengetahuan yang berlangsung sejak 2023.
General Manager Corporate Secretary KCIC, Eva Chairunisa, mengatakan keberhasilan tersebut membuktikan kemampuan SDM Indonesia dalam menguasai teknologi perkeretaapian berkecepatan tinggi.
“Melalui proses transfer pengetahuan yang terstruktur selama tiga tahun, tenaga Indonesia kini telah mampu menjalankan seluruh kegiatan operasi dan perawatan Whoosh secara mandiri,” ujar Eva.
Transfer Teknologi Berlangsung Bertahap
KCIC menjalankan program transfer pengetahuan bersama tenaga profesional yang tergabung dalam Operation and Maintenance Consortium (OMC). Pada awal operasional, tenaga ahli Tiongkok terlibat langsung dalam pengoperasian dan perawatan sekaligus mendampingi pegawai Indonesia.
Program tersebut mencakup pelatihan teori, simulator, observasi, mirroring, dan praktik kerja langsung atau on the job training. Pegawai Indonesia juga menjalani uji kompetensi, sertifikasi, serta asesmen teknis sebelum mengambil alih tanggung jawab operasional.
Seiring meningkatnya kemampuan tenaga lokal, jumlah pendamping berkurang secara bertahap. Seluruh tenaga profesional Tiongkok menyelesaikan masa tugas dan kembali ke negaranya pada Agustus 2026.
Keselamatan Tetap Menjadi Prioritas
Kini, pegawai Indonesia menangani berbagai fungsi penting Whoosh. Tugas tersebut meliputi masinis, pusat kendali operasi atau Operation Control Center (OCC), perawatan sarana, jalan rel, jembatan, terowongan, persinyalan, telekomunikasi, dan sistem kelistrikan.
Eva menegaskan, berakhirnya pendampingan tenaga asing tidak mengurangi standar keselamatan maupun keandalan layanan. Setiap petugas telah memenuhi persyaratan kompetensi dan sertifikasi sesuai bidang tugasnya.
KCIC juga berkomitmen meningkatkan kemampuan pegawai untuk menjaga keselamatan perjalanan, keandalan teknologi, dan kualitas pelayanan kepada penumpang.
Tantangan Setelah Alih Teknologi
Penguasaan operasi secara mandiri menjadi capaian penting bagi industri perkeretaapian Indonesia. Namun, tantangan berikutnya ialah menjaga konsistensi kompetensi, memastikan kesiapan menghadapi gangguan teknis, serta mempertahankan standar keselamatan dalam jangka panjang.
Keberhasilan transfer pengetahuan tidak hanya diukur dari berakhirnya pendampingan tenaga asing. Kemampuan mempertahankan keandalan sistem dan mengembangkan keahlian generasi berikutnya juga menjadi penentu keberlanjutan operasional Whoosh.
KCIC menyampaikan apresiasi kepada kementerian, lembaga, dan seluruh pihak yang mendukung proses pengembangan kompetensi hingga pengalihan tanggung jawab operasi dan perawatan kepada SDM Indonesia.
Perusahaan berharap pencapaian ini dapat memperkuat kapasitas tenaga nasional sekaligus mendorong kemajuan industri perkeretaapian Indonesia.
Ikuti berita terkini di Google News











Komentar ditutup.