MATRASNEWS, BANYUMAS – Warga Desa Baseh, Kecamatan Kedungbanteng, menyampaikan protes keras dan keprihatinan mendalam atas aktivitas tambang granit di bawah lereng Gunung Slamet. Padahal, tambang tersebut berstatus tutup sementara, namun aktivitas keluar-masuk truk masih terlihat, mengindikasikan operasi terus berjalan.
Melalui organisasi MURBA (Musyawarah Masyarakat Baseh), warga mengirimkan surat resmi kepada Presiden RI Prabowo Subianto, Kementerian ESDM, Gubernur Jawa Tengah, Bupati Banyumas, dan DLH setempat. Mereka menegaskan, keberadaan truk tersebut merupakan bukti bahwa larangan seluruh aktivitas selama masa tutup sementara dilanggar.
“Keberadaan truk yang masih keluar-masuk jelas menunjukkan tambang ini belum benar-benar berhenti. Ini membahayakan kami,” tegas pernyataan warga dalam surat tersebut.

Warga menilai operasi tambang yang terus berjalan itu membawa ancaman serius. Keselamatan ribuan penduduk di bawah lereng Gunung Slamet terancam oleh peningkatan risiko longsor besar. Selain itu, aktivitas tambang telah merusak lahan pertanian dan menghilangkan mata air yang menjadi sumber kehidupan bagi sekitar 80 kepala keluarga.
MURBA mendesak pemerintah pusat hingga daerah untuk mengambil tindakan tegas. Tuntutan mereka jelas: menghentikan seluruh kegiatan tambang secara nyata dan menetapkan penutupan permanen lokasi tersebut. Hal ini dinilai mutlak diperlukan demi keselamatan lingkungan dan keberlangsungan hidup warga sekitar.
“Kami meminta komitmen nyata dari para pemimpin untuk melindungi warga dan alam, bukan kepentingan tambang yang abai pada aturan,” demikian penekanan dalam surat protes tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak perusahaan tambang maupun instansi terkait atas laporan dan tuntutan warga Desa Baseh.
Cek Berita lain di Google News












