Menu

Mode Gelap
Presiden Prabowo Umumkan Paket Kebijakan Perlindungan Pekerja pada May Day 2026 Kemenhaj dan Polri Perkuat Koordinasi Jemaah Haji Ascott Jakarta Luncurkan Plesiran di Jakarta Komnas Disabilitas Dukung Penuh Special Olympics NTT 2026 Perlindungan Pekerja Alih Daya Dikuatkan PGE Catat Kinerja Positif, Laba Bersih Naik 40 Persen di Kuartal I-2026

Gaya Hidup

Baju Baru untuk Hari Raya Menjadi Tradisi, atau Sekedar Gaya Hidup

badge-check


					Baju Baru untuk Hari Raya Menjadi Tradisi, atau Sekedar Gaya Hidup Perbesar

Matras News – Hal yang menjadi “wajib” setiap lebaran tiba,memakai baju baru identic dengan keharusan. Padahal, Islam hanya menganjurkan untuk mengenakan pakaian terbaik saat Hari Raya Idul Fitri.

Kebanyakan masyarakat Indonesia mengartikan baju yang terbaik itu dengan baju baru. Pengamat sosial budaya Universitas Indonesia, Devie Rahmawati menjelaskan, baju baru merupakan simbol dari semangat baru.

“Di banyak tradisi, agama maupun budaya, memakai pakaian baru menjadi simbol semangat baru, kesucian, dan sebagainya,” kata Devie belum lama ini.

Bukan hanya baju, ‘baru’ juga dimanifestasikan dalam bentuk lain seperti mengecat rumah dengan warna baru, ponsel baru, dan telepon baru.

Selain itu, serba baru ini juga memiliki pesan sosial untuk menunjukkan status sosial di masyarakat saat momen Hari Raya Idul Fitri.

Pada masyarakat komunal atau dengan budaya ketimuran seperti Indonesia, seseorang dilihat melalui apa yang dimilikinya atau material termasuk baju baru.

Berbeda dengan masyarakat individualis yang melihat seseorang berdasarkan kompetensinya.

“Ini makanya jelang mudik pasar ramai, toko emas laku, mobil bekas laris manis. Karena ini menjadi sesuatu yang penting sehingga diburu masyarakat. Ada kebutuhan simbolik yang menyatakan saya berada di kelompok sosial tertentu,” tutur Devie.

Sependapat dengan Devi, sosiolog Dwi Winarno menyebut, baju baru yang dikenakan saat Lebaran juga menjadi sarana bagi seseorang untuk menunjukkan status sosialnya.

Pasalnya, baju yang dikenakan seseorang dapat membentuk pandangan masyarakat terhadap seseorang, seperti dikutip dari kliknusae,com.

“Baju baru juga jadi bentuk mengekspresikan keglamoran dan kesombongan diri,” kata Dwi.

Momen ini dimanfaatkan oleh produsen kapitalis untuk memenuhi kebutuhan pasar. Sehingga, dampak positifnya, sering kali Hari Raya jadi momen kebangkitan ekonomi.

Ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga budaya lain seperti hadiah Sinterklas saat Natal.

“Apa pun bentuknya, seperti kemewahan atau lainnya tidak masalah. Justru menumbuhkan ekonomi, pengusaha pakaian tumbuh bagus, semua bisa saling melengkapi,” tutur Dwi.

(her)

Baca Lainnya

Jeffry Hendratmo: Selamat Ulang Tahun Wali Kota Bekasi Tri Adhianto Tjahyono

3 Januari 2026 - 19:15 WIB

Andri Goden Siap Nahkodai Karang Taruna Bojongmenteng Rawalumbu Bekasi

1 Desember 2025 - 00:00 WIB

Andri Goden Siap Nahkodai Karang Taruna Bojongmenteng Rawalumbu Bekasi

Bekasi City Fashion Movement 2025 Resmi Dibuka, Rayakan Keberagaman dan Kreativitas Fashion Lokal

20 November 2025 - 00:54 WIB

Bekasi City Fashion Movement 2025 Resmi Dibuka, Rayakan Keberagaman dan Kreativitas Fashion Lokal

Antisipasi Banjir, Warga Gotong-Royong Bersih-Bersih Lingkungan 

4 November 2025 - 02:42 WIB

Dari Dandy Horse hingga Sepeda Modern, Sejarah Evolusi Roda Dua

26 Oktober 2025 - 06:00 WIB

Trending di Gaya Hidup