MATRASNEWS, JAKARTA – Dalam semangat bulan perjuangan bangsa, Yayasan Pramoedya Ananta Toer mempersembahkan acara bertajuk “Aksara Pram di Bumi Menjadi Manusia”, sebuah ruang refleksi dan perayaan atas warisan pemikiran sastrawan besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer.
Acara ini mengangkat tema bagaimana orang-orang, salah satunya Happy Salma terinspirasi ketika membaca karya-karyanya, lalu melahirkan kembali semangat kemanusiaan dan perjuangan yang pernah dihidupi Pram, panggilan akrab Pramoedya Ananta Toer.
Happy Salma termasuk salah satu figur yang konsisten menghidupkan kembali suara dan gagasan Pram dalam teater. Melalui Titimangsa Foundation, ia menerjemahkan karya Pram dalam naskah teater dengan bentuk pementasan yang lebih relevan bagi publik masa kini.

Happy berusaha memperkenalkan kembali semangat dan nilai-nilai yang terkandung dalam karya monumental Pram. “Saya mengambil spirit Pram bahwa tugas orang terpelajar adalah membuat orang menjadi terpelajar. Saya ingin menyentuh mereka yang tidak mengenal Pram, bahkan tidak tahu bukunya lewat medium pertunjukan seperti teater,” kata Happy dalam acara ‘Aksara Pram di Bumi Menjadi Manusia; di Taman Ismail Marzuki (TIM), Minggu, 30 November 2025.
Tiap orang punya alasan tersendiri kenapa begitu menyukai karya-karya Pram, begitu pula dengan Happy. Ibu anak ini bahkan punya alasan cukup unik yang membuatnya jatuh hati pada karya Pram sampai saat ini.
Wanita kelahiran 45 tahun ini mengungkapkan mulai menyukai karya-karya Pram di awal usia 20-an atau saat dirinya masih kuliah. Yang paling berkesan baginya adalah buku Gadis Pantai yang menurutnya sangat inspiratif dan menembus zaman. Ia sampai penasaran dengan ending ceritanya yang dianggapnya menggantung.
“Jadi aku penasaran sama endingnya karena kesannya menggantung, Aku tunggu mungkin ada buku lanjutannya tapi ternyata nggak pernah ada. Aku sampai bertekad sama diriku sendiri mau bertemu langsung sama pengarangnya buat menanyakan langsung ending cerita Gadis Pantai,” ungkapnya.
Beberapa tahun kemudian keinginan Happy akhirnya terwujud. Ia berhasil bertemu langsung dengan Pram dan mendapat jawaban yang memuaskan. Meski tidak mengungkapkan apa jawabannya, ia mengaku sejak saat itu mulai membaca karya-karya Pram lainnya. Ia bahkan sudah beberapa kali dengan penulis yang wafat pada 2006 itu.
“Saya makin suka karya-karyanya Pram yang cukup banyak menginspirasi pemikiran saya. Kemudian setelah beberapa tahun berkiprah di bidang akting jadi muncul ide untuk mengangkat karya-karya tersebut dalam media yang berbeda seperti teater,” terangya.
Terakhir pada Agustus 2025, Happy menggelar pementasan teater berjudul Bunga Penutup Abad di Jakarta. Pertunjukan yang menjadi produksi ke-88 Titimangsa ini merupakan adaptasi dari dua buku pertama Tetralogi Buru, yaitu Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa. Dengan alih wahana tersebut, Happy berusaha memperkenalkan kembali semangat dan nilai-nilai yang terkandung dalam karya monumental Pram.
Sebelumnya, Bunga Penutup Abad sudah pernah dipentaskan pada 2016, 2017, dan 2018. Namun, tahun ini kembali dipentaskan 29, 30, dan 31 Agustus 2025 dalam rangka menandai 100 tahun kelahiran Pramoedya Ananta Toer.
Cek Berita lain di Google News












