MATRASNEWS – Pemerintah menegaskan bahwa ketimpangan jumlah dokter spesialis di berbagai daerah hanya dapat diatasi dengan memperbanyak pusat pendidikan hingga ke tingkat kabupaten dan kota. Langkah strategis ini diperlukan untuk mempercepat pemerataan tenaga kesehatan spesialis di Tanah Air.
Hal tersebut disampaikan Menteri Kesehatan (Menkes) Budi usai menyaksikan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto dengan Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Selasa (18/11/2025). Kerja sama ini ditujukan untuk penguatan RS Penyelenggara Pendidikan Utama (RSPPU).
Menkes Budi menekankan, sentra pendidikan spesialis yang terbatas selama ini membuat peluang dokter umum di daerah untuk melanjutkan pendidikan menjadi sangat kecil.
“Semua dokter umum ingin jadi spesialis, tapi tempatnya sangat sedikit. Kita harus buka sampai 500 RSPPU. Inggris saja yang penduduknya lebih kecil punya lebih banyak pusat pendidikan,” kata Menkes Budi melalui keterangan resminya, Rabu (19/11/2025).
Dia memaparkan perbandingan yang signifikan: Korea Selatan memiliki sekitar 300 sentra pendidikan spesialis, Inggris 600, sementara Indonesia hanya memiliki 26. Dengan ditetapkan sebagai RSPPU pada 2025, RSUD Margono Soekarjo diharapkan menjadi motor percepatan produksi dokter spesialis di Jawa Tengah. Rumah sakit tersebut menargetkan pembukaan program pendidikan baru untuk penyakit dalam, bedah, anak, dan bedah saraf.
“Diharapkan kolaborasi RS Margono–UNS menjadi contoh bagi daerah lain dalam memperluas akses pendidikan dokter spesialis. Kita harus mengejar ketertinggalan supaya semua daerah punya dokter spesialis yang cukup,” tegas Menkes Budi.
Kerja sama antara RSUD Margono Soekarjo dan UNS ini mencakup peningkatan mutu akademik, pengembangan layanan rujukan, pelatihan, serta komitmen untuk pencegahan perundungan dalam pendidikan dokter spesialis. Langkah ini dianggap sebagai terobosan penting untuk menjawab kekurangan dokter spesialis secara nasional.
Cek Berita lain di Google News






