Menu

Mode Gelap
Baru Dilantik Presiden, Ketua Ombudsman Tersangka Suap Tambang Nikel Anggota DPR Usul Iuran BPJS Kesehatan Digratiskan Pemerintah, MBG Bisa Kolaborasi MUFG, Bangun Sarana Air Bersih untuk Aceh Menteri Ekraf Terima Naskah Akademik PPh Royalti Penjelasan Pemerintah Indonesia dan Kedubes Republik Korea Tentang Travel Advisory BTN JAKIM 2026 Ditargetkan Putar Rp200 Miliar

News

Jaga Warisan Budaya, BRIN Manfaatkan Teknologi Nuklir untuk Penelitian Cagar Budaya

badge-check


					Jaga Warisan Budaya, BRIN Manfaatkan Teknologi Nuklir untuk Penelitian Cagar Budaya Perbesar

Matras News – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memanfaatkan teknologi nuklir dalam penelitian cagar budaya, bersama 19 negara di kawasan Asia Pasifik dan Timur Tengah.

Penggunaan teknologi nuklir dimanfaatkan untuk karakterisasi, konsolidasi, dan preservasi warisan budaya, melalui proyek kerja sama teknis International Atomic Energy Agency (IAEA) RAS1027.

Kepala Pusat Riset Arkeometri BRIN, Sofwan Noerwidi mengatakan “Untuk karakterisasi, teknologi nuklir dimanfaatkan untuk mengetahui umur atau usia cagar budaya, misalnya dengan carbon dating, pertanggalan uranium series, dan sebagainya,” kata Sofwan dikutip dari keterangan tertulis BRIN pada, Selasa 20 Agustus 2024.

Hal itu ia sampaikan saat acara Regional Coordination Meeting on RAS1027, “Improving the Utilization of Nuclear Techniques for Cultural Heritage Characterization, Consolidation, and Preservation”, yang diselenggarakan BRIN di Gedung B.J Habibie, Jakarta pada Senin 19 Agustus 2024.

Sofwan menyampaikan, teknologi nuklir dalam karakterisasi juga digunakan untuk mendeteksi komposisi mineral silika maupun unsur lainnya dalam menentukan keaslian cagar budaya berupa fosil.

“Karena definisi fosil adalah suatu tulang atau sisa jasad yang sudah mengalami proses fosilisasi (perubahan material), ini bisa dideteksi dengan teknologi nuklir.

Misalnya, mengetahui komposisi mineral. Karena kalau fosil sudah banyak mineral silika, sedangkan kalau belum fosil masih kalsium, masih tulang, dan lain sebagainya,” ujarnya.

Kemudian, untuk mengetahui keaslian benda cagar budaya menggunakan pemindaian micro CT-scan. Misalnya, dari kerapatan tulang, komposisi karakter struktur tulang dan gigi.

Karakterisasi juga dilakukan untuk mengetahui bahan dari cagar budaya, misalnya bahan lontar (manuskrip kuno).

“Apakah manuskrip tersebut ditulis di atas daun pandan, daun palem, dan sebagainya, ini bisa dibedakan karakternya menggunakan pemindaian micro CT, dan XRF untuk mengetahui komposisi unsurnya,” papar Sofwan.

Teknologi nuklir juga digunakan untuk konsolidasi, artinya untuk menguatkan cagar budaya. Karena sifat dari cagar budaya yang biasanya fragmentaris atau tidak utuh, dan umumnya ditemukan dalam keadaan terpecah-belah.

Sementara untuk mempreservasi atau mengawetkan cagar budaya, teknologi nuklir digunakan untuk mengawetkan agar bisa diteliti dan disimpan dalam jangka waktu lama.

Pihaknya bekerja sama dengan Museum Nasional Indonesia, Museum Sangiran, dan Perpustakaan Nasional untuk mengawetkan cagar budaya tersebut dalam beberapa proyek, di antaranya, proyek fosil, tembikar, dan manuskrip.

Nantinya, teknologi nuklir juga digunakan untuk monitoring. Dengan iklim tropis seperti Indonesia, monitoring diperlukan agar ke depannya bisa mengoptimalkan lingkungan sekitar dalam mengawetkan cagar budaya yang ada di dalamnya.

Sebagai informasi, BRIN sudah memiliki beberapa teknologi nuklir yang digunakan dalam mendukung penelitian warisan budaya.

Misalnya, untuk radiocarbon dengan alat Quantulus di BRIN Cibinong, XRF di BRIN Bandung, XRF portable di beberapa Kampus BRIN untuk pemindaian komposisi mineral, neutron beam dan iradiator gamma di Serpong untuk mempreservasi cagar budaya.

BRIN juga akan membangun Accelerator Mass Spectrometry (AMS) untuk mengkarakterisasi dan pertanggalan cagar budaya yang berusia ratusan ribu hingga jutaan tahun.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Analisis Berkas Nuklir BRIN, Muhayatun Santoso menambahkan, teknologi nuklir lebih akurat dalam melakukan karakterisasi dibandingkan teknik non-nuklir lainnya.

“Nuklir itu sangat spesifik, contoh untuk karakterisasi, yang bersumber dari neutron, x-ray dsb, itu dengan kadar yang sangat kecil bisa terdeteksi.

Sehingga komposisi pada cagar budaya itu akan terlihat jelas, potongan-potongannya dan sambungan dengan potongan yang mana, berasal dari abad ke berapa, dsb,” ujar Muhayatun.

Menurut Koordinator Nasional Proyek RAS1027 IAEA itu, Indonesia bisa memanfaatkan fasilitas-fasilitas riset di luar negeri melalui proyek kerja sama teknis IAEA. Sementara di sisi lain, Indonesia akan membangun AMS.

“Kita ingin menyinergikan semua potensi nasional terkait dengan masalah cultural heritage ini. Tidak hanya punya fasilitas teknologi, tapi dari kerja sama teknis ini, bagaimana kita meningkatkan pengetahuan kompetensi sumber daya manusianya,” ujarnya.

Kerja sama BRIN dengan 19 negara di Asia Pasifik akan menyatukan potensi nasional, baik dari peneliti teknologi nuklir maupun arkeolog dalam riset warisan budaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Baru Dilantik Presiden, Ketua Ombudsman Tersangka Suap Tambang Nikel

17 April 2026 - 00:08 WIB

Anggota DPR Usul Iuran BPJS Kesehatan Digratiskan Pemerintah, MBG Bisa

17 April 2026 - 00:07 WIB

Penjelasan Pemerintah Indonesia dan Kedubes Republik Korea Tentang Travel Advisory

17 April 2026 - 00:01 WIB

BYD dan VinFast Rekrut 616 Tenaga Kerja Asal Subang

16 April 2026 - 00:06 WIB

Zulkifli Hasan Sosialisasi Program Nasional di SMAN 5 Kota Bekasi

16 April 2026 - 00:05 WIB

Zulkifli Hasan Sosialisasi Program Nasional di SMAN 5 Kota Bekasi
Trending di News