Menu

Mode Gelap
Ironi Laba Kertas PHE: Direksi Panen Tantiem Mewah, Korporasi Terjerat Utang Bunga Rp1,56 Triliun. DPR Ingatkan Risiko Psikologis terhadap Wajib Pajak DJP Klarifikasi Peran Babinsa dan Bhabinkamtibmas: Hanya Koordinasi, Bukan Penagihan Pajak HANA Japanese Pop-Up Kitchen Hadir di Swiss-Belresort Dago Heritage Bank Jakarta Buka Cabang Masa Depan di Kebayoran Park Uji Simulasi Darurat DBD, CDC dan Kemenkes RI Evaluasi Kesiapan Operasional

Info Akademia

Ketimpangan Pendidikan Tinggi: Rektor Paramadina Sebut PTN “Menindas” PTS

badge-check

Keterangan foto ilustrasi Perbesar

Keterangan foto ilustrasi


Ekosistem pendidikan tinggi nasional dinilai timpang. Kebijakan penerimaan mahasiswa baru yang masif oleh PTN disebut mengancam eksistensi PTS yang selama ini menjadi tulang punggung akses pendidikan rakyat.

MATRASNEWS, JAKARTA—Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini, Ph.D., melontarkan kritik tajam terhadap ketimpangan ekosistem pendidikan tinggi di Indonesia. Menurutnya, kebijakan yang berlaku saat ini tidak adil dan justru membunuh peran perguruan tinggi swasta (PTS) dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

Prof. Didik menilai penerimaan mahasiswa baru di sejumlah perguruan tinggi negeri (PTN) dalam beberapa tahun terakhir berlangsung tanpa batas dan tidak proporsional. Fenomena ini, sebutnya, setara dengan praktik persaingan bebas yang mematikan pihak lain (cut throat competition).

Jurang Akses dan Dana

Kritik utama disampaikan terkait ketimpangan sumber daya. Prof. Didik memaparkan, PTN utama menerima dana APBN fantastis, mencapai Rp1 hingga Rp3 triliun per tahun. Ironisnya, PTN tetap memungut biaya pendidikan dari masyarakat hingga dua hingga tiga kali lipat nilai tersebut. Sementara itu, PTS harus bertahan dengan dana mandiri dari yayasan dan masyarakat, yang rata-rata hanya sekitar Rp50-80 miliar untuk ribuan mahasiswa.

“PTS merasakan situasi tidak adil karena selain sumber daya negara diraup PTN, juga ada pembiaran kebijakan yang mematikan PTS. Tidak ada perlindungan negara yang memadai,” tegasnya.

Ia mencontohkan, Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dan Universitas Brawijaya (UB) dikabarkan menerima hingga 21.000-23.000 mahasiswa baru setiap tahun. Jumlah ini setara dengan total mahasiswa di kampus elite dunia seperti Harvard atau Oxford.

PTS Terdesak, Ratusan Terancam Tutup

Data menunjukkan situasi darurat di tubuh PTS. Meskipun jumlah mahasiswa nasional meningkat signifikan, dari 2,9 juta (2022) menjadi 4,5 juta (2025), pertumbuhan ini lebih banyak terserap oleh PTN . Akibatnya, banyak PTS mengalami penurunan drastis jumlah mahasiswa dalam dua hingga tiga tahun terakhir. Bahkan, sebagian terpaksa menghentikan operasional.

“Penerimaan mahasiswa baru tanpa batas seperti ini sudah banyak mematikan PTS,” ujar Prof. Didik.

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Wagub Rano Karno Dorong Ruang Publik Inklusif di Tengah Tantangan Reformasi

22 Juli 2026 - 00:04 WIB

Seminar Universitas Paramadina dan Komisi X DPR RI Bahas Transformasi Pendidikan di Era AI

21 Juli 2026 - 00:05 WIB

Kampus Merah Putih: Mengukur Dampak Diskursus, Bukan Sekadar Ranking

20 Juli 2026 - 00:04 WIB

Gubernur DKI Jakarta Resmikan Gedung SMA Labschool Ciracas

20 Juli 2026 - 00:02 WIB

60 Ribu Calon Mahasiswa Baru Tidak Daftar Ulang

17 Juli 2026 - 07:41 WIB

Trending di Info Akademia