Kajian Filsafat di Tengah Derasnya Arus Informasi
MATRASNEWS, JAKARTA – The Lead Institute Universitas Paramadina kembali menggelar seri “Kajian Filsafat & Agama 2026” bertajuk Madzhab Frankfurt vs “Madzhab” Paramadina dengan tema “Manusia di Zaman Edan”. Edisi ketiga yang dipandu Peneliti The Lead Institute Dida Darul Ulum pada Senin (6/7) malam membandingkan kritik Herbert Marcuse tentang Manusia Satu Dimensi dengan gagasan Nurcholish Madjid atau Cak Nur mengenai manusia sebagai khalifatullah.
Budaya kejar untung atau kapitalisme dan derasnya arus informasi dinilai membuat masyarakat semakin jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. Dalam kebudayaan Jawa, fenomena kemunduran ini kerap disebut sebagai “zaman edan”, istilah yang dipopulerkan pujangga besar dari Keraton Surakarta, Raden Ngabehi Ronggowarsito dalam Serat Kalatidha (1860). Kalatidha berarti zaman keraguan atau masa suram saat nilai-nilai luhur tidak lagi dihargai. Saat serat ini dikarang, Ronggowarsito melihat kebingungan masyarakat dalam menghadapi perubahan sosial, politik dan budaya yang cepat terutama akibat tekanan penjajahan dan melemahnya tatanan tradisional Jawa.
Membuka diskusi, Rektor Universitas Paramadina Prof. Dr. Didik J. Rachbini menegaskan pentingnya kajian filsafat di tengah kondisi tersebut. “Di tengah derasnya arus informasi dewasa ini di mana pemikiran filsafat semakin terpinggirkan, kajian filsafat menjadi sangat penting sebagai olah fikir, exercise dalam menalar guna menemukan kebenaran sejati,” ujar Didik.
Ketua The Lead Institute Dr. phil. Suratno Muchoeri, alumnus Goethe-Universität Frankfurt, membuka diskusi dengan mengutip filosofi Jawa: “Zaman Edan, Yen Ora Edan Ora Keduman, Nanging sak bejo-bejone wong edan, isih luwih bejo wong kang eling lan waspodo”. Pepeling (nasihat) tersebut memiliki makna, “seberuntung-beruntungnya orang yang ikut arus kegilaan zaman, akan lebih beruntung orang yang tetap ingat dan waspada.”












Komentar ditutup.