Menu

Mode Gelap
Masuk Usia ke 10, Vasaka Hotel Jakarta Gelar Media Gathering Wamen Ekraf Dukung Industri Musik Lewat Indonesian Idol Kokola Group Salurkan Sapi Limosin untuk Qurban Bagikan Bubur Gratis, Hotel 88 Bekasi Tebar Kepedulian Hari Kelima Korban Hanyut di Kali Bekasi Ditemukan Tutup Usia Airbnb Kini Tawarkan Layanan Jemput Bandara Hingga Titip Koper untuk Liburan Anti Ribet

Info Akademia

PGRI dan Praktisi Dukung Sistem Penjurusan IPA, IPS dan Bahasa di SMA

badge-check


					PGRI dan Praktisi Dukung Sistem Penjurusan IPA, IPS dan Bahasa di SMA Perbesar

Matras News, Jakarta – Rencana Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk kembali menerapkan sistem penjurusan IPA, IPS, dan Bahasa di jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) pada tahun ajaran 2025/2026 mendapat dukungan luas dari para guru dan praktisi pendidikan.

Ketua Umum PB PGRI, Unifah Rosyidi, menyambut baik kebijakan ini. Menurutnya, penjurusan penting agar siswa dapat mendalami bidang ilmu sesuai minat dan potensi mereka.

“Jika siswa tidak memahami dasar ilmu dengan baik, maka sulit bagi mereka memilih peminatan secara tepat. Penjurusan membantu mereka menjadi ahli di bidang yang sesuai dengan minatnya,” ujar Unifah pada, Senin 14 April 2025.

Dukungan juga datang dari Heriyanto, seorang praktisi pendidikan, yang menilai bahwa kebijakan penghapusan penjurusan sebelumnya tidak sepenuhnya efektif di lapangan. Ia menjelaskan bahwa siswa kesulitan dalam menentukan arah karier sejak dini, dan kondisi ini berdampak pada pemilihan mata pelajaran.

“Misalnya siswa kelas XI awal ingin jadi dokter, lalu ambil biologi dan kimia, tapi ternyata kelas XII berubah ingin jadi insinyur. Sayangnya, ia tak ambil fisika sebelumnya. Ini yang sering jadi masalah,” jelas Heri.

Ia juga menyoroti belum selarasnya kurikulum SMA dengan kebutuhan perguruan tinggi. Beberapa mata kuliah dasar seperti fisika, kimia, dan biologi tetap menjadi syarat meski jurusan mahasiswa tidak secara langsung membutuhkannya.

Senada dengan itu, Ignasius Sudaryanto, guru Geografi di SMA Pangudi Luhur II Servasius Bekasi, menyampaikan bahwa penjurusan justru memudahkan sekolah dalam pengelolaan sumber daya pengajar.

“Selama ini guru kesulitan membagi jam mengajar karena tidak semua mata pelajaran dipilih siswa. Ini berpengaruh ke tunjangan profesi. Kalau kembali ke sistem jurusan, siswa bisa lebih fokus, dan sekolah bisa lebih mudah mengatur beban kerja guru,” tutur Sudaryanto.

Ia menambahkan bahwa banyak siswa merasa bingung dalam memilih mata pelajaran karena tidak memiliki acuan yang jelas, dan pada akhirnya, pemilihan itu tidak selalu sesuai dengan kebutuhan pendidikan lanjutan mereka.

Dukungan dari para pendidik ini menegaskan pentingnya sistem penjurusan sebagai bentuk penguatan pendidikan menengah.

Dengan pilihan jurusan yang jelas, siswa diharapkan bisa lebih fokus, pendidik lebih terfasilitasi, dan transisi ke pendidikan tinggi menjadi lebih sinkron.

Kebijakan ini rencananya akan mulai diterapkan kembali secara nasional pada tahun ajaran 2025/2026, sebagai bagian dari upaya menciptakan sistem pendidikan yang adaptif namun tetap terarah.

Baca Lainnya

Menakar Akurasi Laporan The Economist: Apakah Indonesia Menuju Jurang?

28 Mei 2026 - 01:08 WIB

University of Melbourne Buka Beasiswa Penuh untuk Mahasiswa Internasional

19 Mei 2026 - 00:04 WIB

Penataan Non-ASN, Pemerintah Jamin Layanan Pendidikan Tetap Jalan

18 Mei 2026 - 01:37 WIB

Buku The Pancasila Market Economy Diluncurkan

13 Mei 2026 - 00:23 WIB

9 Mahasiswa Hamzanwadi Magang di Perusahaan Hotel Raksasa Jepang

12 Mei 2026 - 00:05 WIB

Trending di Info Akademia