MATRASNEWS, JAKARTA – Universitas Paramadina, di tengah gempuran pemeringkatan berbasis kuantitas, justru menonjol dalam kancah diskursus publik. Sebuah simulasi berbasis kecerdasan buatan (AI) menempatkannya di jajaran kampus paling berpengaruh, menggeser paradigma penilaian dari sekadar fasilitas ke kontribusi pemikiran nyata.
Namun, selama ini pemeringkatan di Indonesia lebih banyak mengukur potensi internal seperti tata kelola, jumlah guru besar, hingga publikasi ilmiah di jurnal internasional . Indikator ini dinilai penting, tetapi belum cukup untuk menggambarkan peran kampus dalam membentuk opini dan kebijakan publik.
Untuk menjawab celah tersebut, sebuah pendekatan baru menggunakan AI coba mengidentifikasi universitas paling aktif dalam diskursus publik. Ketika AI diberi pertanyaan tentang universitas di Jakarta yang paling banyak memberikan pemikiran di masyarakat, hasilnya menempatkan Universitas Indonesia di urutan pertama, disusul UIN Syarif Hidayatullah, dan Universitas Paramadina di posisi ketiga.

Daftar ini disusun berdasarkan reputasi akademik, intensitas kontribusi dosen di media, aktivitas pusat kajian, dan pengaruh terhadap kebijakan.
Rektor Universitas Paramadina, Didik J. Rachbini, menilai bahwa pengakuan ini bukan sekadar tentang popularitas, melainkan tentang konsistensi. “Paramadina lahir dari tradisi intelektual yang kuat, dengan semangat untuk mengawal demokrasi dan kebijakan publik. Kami memang sengaja membangun ekosistem di mana akademisi tidak hanya sibuk menulis jurnal, tetapi juga terlibat aktif dalam perdebatan publik,” ujarnya.












Komentar ditutup.