MATRASNEWS – Dalam gelaran CES 2026, Samsung Electronics menggelar forum diskusi bertajuk “In Tech We Trust? Rethinking Security & Privacy in the AI Age”. Panel yang menghadirkan pakar global seperti Allie K. Miller (CEO Open Machine), Amy Webb (CEO Future Today Strategy Group), Zack Kass (Global AI Advisor), dan Shin Baik (Group Head AI Platform Center Samsung) ini menegaskan bahwa kepercayaan adalah kunci adopsi AI dalam kehidupan sehari-hari.
Para ahli menyoroti bahwa kepercayaan tidak dibangun melalui janji, melainkan lewat perilaku konsisten, transparansi, dan kontrol pengguna yang nyata. “Pengguna ingin menjadi pemegang kendali atas pengalaman personalisasi mereka,” tegas Allie Miller dalam siaran pers yang diterima Matrasnews, Rabu (7/1/2026).
Samsung memaparkan pendekatan trust-by-design, dengan fokus pada sistem AI yang dapat diprediksi serta memberikan kontrol jelas kepada pengguna. Perusahaan juga menekankan peran AI on-device dalam menjaga privasi, di mana data diproses secara lokal sebisa mungkin, sementara cloud digunakan secara selektif untuk tugas yang membutuhkan skalabilitas lebih besar.
Di sisi keamanan, Samsung menyoroti platform Knox yang telah melindungi miliaran perangkat dari tingkat chipset, serta Knox Matrix yang menciptakan ekosistem perangkat yang saling mengautentikasi dan melindungi. “Kepercayaan terhadap AI dimulai dari keamanan yang terbukti, bukan sekadar janji,” ujar Shin Baik.
Dialog juga menggarisbawahi pentingnya kolaborasi industri. Samsung menyatakan kemitraan dengan pemain seperti Google dan Microsoft diperkuat untuk riset keamanan bersama dan interoperabilitas.
Sementara itu, Amy Webb memberikan perspektif pasar dengan menyatakan bahwa konsumen pada akhirnya akan mengadopsi AI yang menawarkan kenyamanan dan kemudahan hidup. “Jika AI mampu menarik perhatian karena membuat hidup lebih mudah, di situlah nilai utamanya,” katanya.
Para panelis sepakat, untuk membangun kepercayaan jangka panjang, teknologi AI harus dirancang sejak awal dengan prinsip keamanan, transparansi, dan memberikan pilihan bermakna bagi pengguna bukan menjadi sistem “kotak hitam” yang tidak bisa dipahami.
Cek Berita lain di Google News











