“Artificial intelligence adalah alat yang luar biasa kuat, namun ia tidak memiliki nurani. Di ruang-ruang kelas digital masa depan, kemampuan critical thinking dan pemecahan masalah secara etis jauh lebih berharga daripada sekadar menghafal timbunan informasi,” papar Darwis.
Ia menekankan orientasi mengajar guru dan dosen harus bertransformasi secara radikal. Fokus pendidikan tidak boleh lagi sekadar mentransfer pengetahuan hafalan yang dengan mudah dicari melalui mesin AI, melainkan wajib bergeser untuk mengasah penalaran tingkat tinggi dan pemecahan kasus nyata di masyarakat.
Ancaman Pengangguran Intelektual Mengintai
Meninjau dari perspektif ekonomi makro, Wakil Kepala Center for Sharia Economic Development (CSED) INDEF, Dr. Handi Rizsa, M.Ec., memaparkan ancaman nyata dari hilangnya beberapa sektor pekerjaan konvensional akibat otomatisasi AI. Ia mendesak adanya rekonstruksi kurikulum pendidikan tinggi nasional secara masif.
“Pergeseran ekonomi dunia berbasis AI menuntut transformasi total pada kurikulum perguruan tinggi. Jika kita tidak menyelaraskan kompetensi lulusan dengan kebutuhan industri masa depan yang dinamis, maka risiko pengangguran intelektual akan meningkat,” jelas Handi.
Menurutnya, pendidikan harus diarahkan pada fleksibilitas keahlian dan penguatan integritas berbasis nilai kemodernan serta kebangsaan. Perguruan tinggi tidak boleh terjebak pada pola pengajaran kaku yang hanya menghasilkan lulusan dengan kompetensi usang.
Sekolah Menengah Paling Rentan Dampak Negatif AI
Kepala SMAN 7 Bekasi, Drs. Fajar Heryadi Trimawardi, M.Pd., menyatakan siswa-siswi di level sekolah menengah paling rentan terpapar dampak negatif teknologi jika tanpa pengawasan yang tepat. Dirinya mengapresiasi kolaborasi lintas lembaga ini sebagai acuan praktis bagi pihak sekolah.
“Sebagai praktisi di tingkat pendidikan menengah, kami melihat AI sebagai peluang besar sekaligus tantangan moral. Guru tidak lagi berperan sebagai satu-satunya sumber ilmu, melainkan sebagai fasilitator yang mengarahkan siswa memanfaatkan teknologi secara bijak,” tutur Fajar.
Ia menambahkan, kolaborasi seperti seminar ini memberikan panduan strategis bagi sekolah dalam mendesain inovasi pembelajaran sejak dini. Pendekatan preventif dinilai lebih efektif ketimbang kuratif dalam menghadapi dampak negatif AI di kalangan pelajar.
Rekomendasi Kebijakan Akan Disusun dari Aspirasi Peserta
Penanggung Jawab Acara yang juga menjabat sebagai Direktur Pemasaran dan Beasiswa Universitas Paramadina, Dr. Peni Hanggarini, S.IP., M.A., menambahkan bahwa seminar nasional ini berhasil mengumpulkan aspirasi dari praktisi dan akademisi untuk dirangkum menjadi draf rekomendasi kebijakan strategis.
“Kami akan merumuskan masukan dari seluruh peserta untuk kemudian disampaikan kepada pemangku kebijakan terkait. Semoga rekomendasi ini dapat menjadi acuan dalam perumusan regulasi pendidikan nasional yang adaptif terhadap perkembangan teknologi,” ungkap Peni.
Seminar yang berlangsung interaktif ini diakhiri dengan sesi diskusi panel yang membahas implementasi AI dalam proses belajar mengajar, kesiapan infrastruktur digital di daerah terpencil, serta pentingnya penguatan literasi digital bagi tenaga pendidik. Para peserta sepakat bahwa transformasi pendidikan di era AI membutuhkan kerja sama semua pihak, mulai dari pemerintah pusat, daerah, perguruan tinggi, hingga sekolah dan orang tua.
Ikuti berita terkini di Google News











Komentar ditutup.