Terkait akses mahasiswa tidak mampu, Handi menegaskan solusinya bukan menumpuk mahasiswa di PTN, melainkan melalui penguatan program beasiswa. Saat ini pemerintah telah menyalurkan beasiswa kepada 200 ribu mahasiswa per tahun. Jika digabung dengan sektor nonpemerintah, total penerima mencapai lebih dari satu juta orang.
“Dengan dana pendidikan yang besar, beasiswa bisa ditingkatkan dua kali lipat. Anak miskin kalau mau kuliah pasti ada beasiswa,” ujar Handi dalam keterangan tertulis, Selasa (18/3).
Ia juga mengingatkan agar Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP Kuliah) benar-benar tepat sasaran dan tidak dimanfaatkan untuk kepentingan politik tertentu.
Handi menambahkan, pembatasan kuota akan mendorong PTN berhenti mengejar jumlah mahasiswa besar-besaran demi pendapatan negara bukan pajak (PNBP). PTN diminta fokus pada riset, inovasi, dan peningkatan daya saing global.
“PTN harus menargetkan dalam beberapa tahun ke depan masuk peringkat 50-100 kampus top dunia,” cetusnya.
Ia mengingatkan bahwa PTS merupakan pilar utama perluasan akses pendidikan tinggi karena jumlah institusi dan mahasiswanya menjadi mayoritas secara nasional. Menurutnya, masa depan pendidikan tinggi Indonesia bergantung pada kemampuan negara memberdayakan PTS sebagai mitra strategis.
“Keadilan bagi PTS adalah memastikan jutaan mahasiswa tetap mendapat akses pendidikan berkualitas melalui kebijakan yang seimbang dan inklusif,” tutup Handi.
Ikuti berita terkini di Google News, klik di sini.











