Kecurigaan Ade semakin bertambah ketika melihat adanya perubahan klasemen peserta. Ia mencontohkan salah satu siswa dari sekolah yang sama yang sebelumnya sudah keluar dari daftar kuota penerimaan, namun pada keesokan harinya kembali masuk ke dalam kuota dengan posisi peringkat ke-74 atas nama Fadli Surya Diningrat.
Menurutnya, kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai konsistensi sistem penilaian yang digunakan dalam proses seleksi.
Selain persoalan perubahan nilai, Ade juga menyoroti pelaksanaan verifikasi dan validasi data yang dinilai tidak sesuai dengan jadwal resmi yang telah ditetapkan.
Berdasarkan timeline SPMB, proses verifikasi dan validasi seharusnya berakhir pada 2 Juni 2026 pukul 23.59 WIB. Namun, menurut pengamatannya, proses verifikasi masih berlangsung hingga malam hari pada 3 Juni 2026.
Padahal, tanggal tersebut seharusnya sudah memasuki tahapan uji kompetensi dan masa sanggah.
“Buat apa ada timeline kalau ternyata tidak sesuai dengan yang seharusnya?” kata Ade.
Ia menilai kondisi tersebut dapat menimbulkan ketidakpastian bagi peserta dan orang tua yang mengikuti seluruh tahapan sesuai jadwal yang telah diumumkan.
Ade juga mempertanyakan mengapa pihak sekolah tidak mengambil langkah untuk menghentikan proses verifikasi sesuai batas waktu yang telah ditentukan, meskipun sistem dari tingkat provinsi masih terbuka.
Menurutnya, uji kompetensi yang dijadwalkan juga tidak dilaksanakan sebagaimana mestinya, sementara proses verifikasi tetap berlangsung di luar jadwal.
“Saya hanya ingin ada penjelasan yang logis dan terbuka dari pihak yang berwenang, baik dari kepala sekolah maupun KCD, mengenai perubahan nilai dan proses verifikasi yang terjadi,” tegasnya.
Selain persoalan nilai dan verifikasi, Ade mengaku mengalami kendala saat melakukan pengunggahan dokumen pada jalur kepemimpinan.
Ia menjelaskan bahwa data telah diinput sejak 28 Mei 2026. Namun pada malam hari tanggal 1 Juni 2026, dirinya menerima notifikasi perbaikan data dengan alasan waktu penyelenggaraan kegiatan tidak sesuai dengan tanggal Surat Keputusan (SK) kepengurusan OSIS.
Setelah mendatangi sekolah dan memperoleh penjelasan dari petugas informasi bahwa tidak ada masalah pada dokumen yang diunggah, Ade kembali melakukan unggah ulang data tersebut. Namun, notifikasi yang sama kembali muncul pada sore harinya.
Saat kembali mendatangi sekolah, ia mendapat bantuan dari petugas bernama Suteman. Dari penjelasan yang diterimanya, diketahui bahwa sistem pendaftaran hanya menyediakan pilihan bulan dan tahun, sedangkan pada tahap verifikasi muncul tanggal otomatis 1 November 2024.
Ade mempertanyakan mengapa hal tersebut bisa terjadi dan apakah kendala serupa juga dialami oleh peserta lain, tandasnya.
Ikuti berita terkini di Google News, klik di sini.











