Menu

Mode Gelap
5 Fakta Krisis Air Bersih di Timor Tengah Selatan Pendapatan Samsat Bekasi Sentuh Rp7,18 Miliar, Didominasi PKB dan BBNKB Perkuat Sinergi, Ditjen Hubla dan Pelindo Teken Dua Perjanjian Konsesi Bersih-Bersih Reklame Ilegal: Kasat Pol PP Nesan Sujana Tabuh Genderang Penertiban Libur Panjang, Archipelago Hotels Siapkan Promo “Time Out, Relax” Diskon 40% Optimalkan Pajak dan Soroti K3, Camat Jatiasih Pimpin Rapat Minggon

Info Akademia

Diskusi Publik Soroti Kondisi Sosial Politik Indonesia, Desak Perbaikan Sistem dan Hentikan Represi

badge-check


					Diskusi Publik Soroti Kondisi Sosial Politik Indonesia, Desak Perbaikan Sistem dan Hentikan Represi Perbesar

MatrasNews, Jakarta – Berbagai pakar, akademisi, dan perwakilan masyarakat sipil menyuarakan keprihatinan mendalam atas kondisi sosial politik Indonesia dalam diskusi publik daring bertajuk “Menyalakan Lilin di Kegelapan: Refleksi dan Keprihatinan Bersama Masyarakat Sipil”, Minggu (31/8/2025).

Forum yang diselenggarakan oleh LP3ES dan Universitas Paramadina ini mendesak perbaikan sistemik dan penghentian represi terhadap ruang demokrasi.

Dalam sambutannya, Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini, menegaskan bahwa kerusakan kelembagaan di Indonesia sudah masif. “Reformasi yang sejati nyaris tidak lagi terlihat. Perbaikan harus dimulai dari kepemimpinan politik,” tegasnya.

Didik menyoroti degradasi reformasi, praktik politik uang, kabinet yang memasukkan figur bermasalah, serta dominasi anggaran oleh Polri dan TNI.

Direktur Eksekutif LP3ES, Fahmi Wibawa, mengingatkan urgensi mengatasi disinformasi dan mendorong Reformasi Jilid 2 untuk memperbaiki kualitas demokrasi.

Sementara Wijayanto (LP3ES) dan Herlambang P. Wiratraman (FH UGM) menyoroti menjauhnya elite dari publik, pengabaian HAM, maraknya kekerasan aparat, dan impunitas.

Direktur Eksekutif PUSKAPOL UI, Hurriyah, melihat gelombang aksi massa sebagai respons alamiah terhadap menyempitnya ruang sipil dan kebijakan yang merugikan rakyat. “Pemerintah menggunakan buzzer, rekayasa opini, dan politik pecah belah untuk melemahkan masyarakat sipil,” tegasnya.

Nenden S. Arum, Direktur SAFEnet, menambahkan bahwa represi juga terjadi di ruang digital melalui pemblokiran akun, kriminalisasi, dan gangguan internet. Ia mendesak pemerintah menghentikan praktik represi digital ini.

Pemikir kebhinekaan, Sukidi, dan perwakilan mahasiswa, Afiq Naufal dan Hudan Lil Muttaqin, mendesak kepemimpinan nasional yang responsif, reformasi Polri, dan mengingatkan bahwa demokrasi telah gagal pada level substansial. Mereka menekankan bahwa kemarahan publik adalah momentum untuk “tobat sistemik”.

Diskusi ini menyepakati bahwa langkah korektif mendesak diperlukan, termasuk reformasi kelembagaan, perbaikan APBN, perlindungan kebebasan berekspresi, dan penghentian segala bentuk kekerasan dan represi oleh negara. Pemerintah didesak untuk sungguh-sungguh mendengarkan dan merespons aspirasi rakyat.

Baca Lainnya

Pelajar Indonesia Raih Emas di Olimpiade Matematika Paris

6 Mei 2026 - 00:04 WIB

Disabilitas Daksa, Doktor UNAIR Raih IPK Sempurna 4,00

3 Mei 2026 - 00:36 WIB

Orasi Ilmiah, Lulusan Perguruan Tinggi Harus Miliki Strategi Triple Readiness

27 April 2026 - 01:16 WIB

Kucurkan Rp253,6 Miliar, Pemprov DKI Gratiskan 103 Sekolah Swasta

22 April 2026 - 00:26 WIB

Mutiara Faiza Siswi MAN Insan Cendekia Tembus 7 Kampus Dunia, Dapat Beasiswa 80 Persen ke Jepang

14 April 2026 - 00:01 WIB

Trending di Info Akademia