Buku ini mengajak generasi muda memahami bahwa sejarah tidak hanya tersimpan dalam arsip negara. Ingatan para penyintas menjadi dokumen hidup yang merawat kesadaran publik agar praktik pelanggaran HAM tidak terulang.
Para penyelenggara berharap diskusi mengenai sejarah pelanggaran HAM tidak berhenti di ruang akademik, tetapi berkembang menjadi kesadaran bersama. Penghormatan terhadap hak asasi manusia merupakan fondasi utama negara demokrasi.
Nyanyian Bawah Tanah menghadirkan narasi penangkapan dan penyiksaan aktivis SMID/PRD menjelang akhir Orde Baru. Buku ini memperkaya literatur perjuangan demokrasi dari perspektif korban. Penerbit merencanakan distribusi nasional pada Agustus 2026.
Ikuti berita terkini di Google News












Komentar ditutup.