MATRASNEWS, BANDUNG – Momentum tahun ajaran baru dan pertemuan tingkat tinggi PBB tentang keselamatan jalan pada 20–21 Juli 2026 dimanfaatkan PT Kereta Api Indonesia (Persero) untuk memperkuat edukasi keselamatan perkeretaapian. Sosialisasi menyasar pelajar SMAN 6 Bandung, Senin (20/7), seiring tuntasnya target penutupan 172 perlintasan sebidang prioritas pada semester I tahun ini.
PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat pencapaian signifikan dalam upaya meningkatkan keselamatan perjalanan kereta api. Sebanyak 172 perlintasan sebidang prioritas berhasil ditutup pada semester I tahun 2026. Langkah ini merupakan bagian dari penanganan 1.810 perlintasan tidak terjaga yang tersebar di seluruh wilayah operasi KAI.
Penutupan perlintasan dilakukan melalui koordinasi dengan pemerintah pusat, pemerintah daerah, aparat kewilayahan, dan masyarakat. Setiap perlintasan yang ditutup telah melalui proses evaluasi dan kajian keselamatan yang komprehensif.

Data KAI menunjukkan bahwa sepanjang Januari hingga 4 Juni 2026 terjadi 119 kecelakaan di perlintasan sebidang yang mengakibatkan 97 korban. Perilaku menerobos saat kereta api akan melintas menjadi penyebab dominan dengan porsi mencapai 87 persen dari seluruh kejadian yang tercatat.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menjelaskan bahwa pengurangan titik risiko menjadi salah satu strategi penting dalam meningkatkan keselamatan transportasi nasional. “Fokus utama kami adalah mengurangi titik-titik risiko yang berpotensi menimbulkan kecelakaan,” ujar Anne
Bertepatan dengan pertemuan tingkat tinggi PBB tentang keselamatan jalan, KAI menggelar sosialisasi keselamatan perkeretaapian kepada pelajar SMAN 6 Bandung. Kegiatan bertema “Smart, Safe and Sustainable: Menjadi Generasi Muda yang Peduli Keselamatan Perkeretaapian” berfokus pada pengenalan karakter kereta api, risiko di sekitar jalur, dan kewajiban pengguna jalan di perlintasan sebidang.
Anne Purba menekankan peran penting pelajar dalam memperluas budaya keselamatan. Pengetahuan yang diterima di sekolah dapat diterapkan sekaligus disampaikan kepada keluarga dan lingkungan sekitar.
“Keselamatan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti menjauhi jalur kereta api, tidak menerobos perlintasan, berhenti ketika tanda peringatan aktif, serta saling mengingatkan ketika melihat perilaku berisiko,” ujar Anne.
Salah satu materi utama sosialisasi menjelaskan alasan kereta api tidak dapat berhenti secara mendadak. Satu rangkaian kereta penumpang di Indonesia umumnya terdiri atas 8 hingga 12 kereta dengan bobot sekitar 600 ton, belum termasuk pelanggan dan barang bawaan.












Komentar ditutup.