Matras News – Seperti diketahui RP (Roleplay) adalah bermain peran, dan orang yang bermain peran itu adalah RolePlayer. Dimana masing-masing itu bisa memerankan satu karakter, seperti memerankan suatu tokoh berperan seperti selebrity, idola jadi orang tertentu atu jadi idola lainnya.
Sebagai Roleplayer ia bisa menjiwai, sebagai sikarakter yang diperankan. Orang yang bermain Roleplay ini tidak saling mengetahui satu dengan yang lainnya, ia sedang ngomong dan chat dengan siapa dan aslinya laki apa perempuan danusia berapa, karena identitasnya dirahasiakan.
Saat ini anak-anak di bawah umur juga bisa ikut bermain Roleplay, biasanya permainan ini terjadi bila seseorang berada pada telegram grup dan whastapp grup dapat langsung bermain peran.
Dan celakanya bermain perannya bisa bermain peran sebagai orang dewasa bahkan sampai sexting(chating berbau sex) berbahas fulgar seperti layaknya orang dewasa terkait sex. Dalam perannya seseorang dapat berperan sebagai suami istri sampai berilustrai memeliki anak.
Permainan ini (Roleplay) memang hanya berpura-pura, seperti di ungkapkan oleh akun tiktok @zulvia.syarif.spkj permainan Roleplay sangat berbahaya, karen asudah melibatkan orang lain yang kita tidak mengetahui identitasnya, Diduga hal ini bisa jadi ada unsur-unsur Dinamika Psikologis pelaku pedofilia, pelaku predator anak dan sebagainya,” katanya dalam uanggahan video tersebut Ia berpesan.
Para orang tua harus berhati-hati mengawasi anaknya dengan adanya fenomena hal ini
Kalau anak mengetahui permainan dan bermain Roleplay, orang tua harus menjaga emosi. Jangan memarahi anak dengan emosional, karen akan berdampak tidak baik untuk anak. Kita sebagai orang tua harus dapat mengontrol emosi, dan mencari tahu, kenapa anak kita bisa bermain permainan Roleplay, dan sebagai orang tua harus dapat menghilangkan permain itu kepada anak kita. Bisa juga mengunjugi psikiater.
Sebenarnya yang perlu di terapi bukan cuma anak, tetapi kepada orang tua, kenap anaknya bisa bermain permainan Roleplay. (hr)











