MATRASNEWS, JAKARTA — Ekonomi Indonesia tumbuh 5,61% pada triwulan I-2026. Namun, pengajar Universitas Paramadina, Ariyo DP Irhamna, menilai angka itu menyimpan tiga ujian yakni, amunisi fiskal, daya tahan struktur ekonomi, dan nyali politik untuk reformasi.
Menurut Ariyo, pertumbuhan ditopang belanja pemerintah yang menyumbang 1,26 poin persentase. Tanpanya, pertumbuhan hanya sekitar 4,4-4,6%. “Membaca 5,61% sebagai momentum menguat adalah keliru,” tulisnya.
Dari sisi fiskal, keseimbangan primer APBN berbalik dari surplus Rp21,9 triliun menjadi defisit Rp95,8 triliun. Bunga utang membengkak 18,6% dan subsidi energi melonjak. Rupiah pun tertekan di level Rp17.605 per dolar AS.
Sementara itu, PMI manufaktur April 2026 sudah masuk zona kontraksi (49,1). Rasio kredit macet properti naik menjadi 3,24%, menandakan kelas menengah tertekan.
Ariyo mendorong pemerintah mempercepat belanja modal produktif dan mereformasi subsidi energi. “Pertanyaannya bukan sekadar validitas angka, tetapi siapa yang menanggung biaya pertumbuhan ini,” ujarnya.











