MATRASNEWS, SLEMAN – Lahan pertanian di Desa Sumberadi, Kecamatan Melati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, tampak berbeda dari biasanya. Deretan semangka non-biji berwarna hijau segar memenuhi area demonstration plot (demplot) seluas 2.500 meter persegi, beberapa waktu lalu.
Di tengah cuaca hangat, para petani, akademisi, pejabat daerah, hingga perwakilan swasta berkumpul menggelar tradisi wiwitan panen. Tradisi ini menjadi simbol rasa syukur sekaligus harapan akan masa depan pertanian modern.
Di balik buah siap panen itu, ada perjalanan kolaborasi yang dimulai sejak 24 Oktober 2023. Petani Milenial Sleman menggandeng Indomaret dan Fakultas Pertanian UGM mengembangkan program hortikultura modern. Tujuannya bukan sekadar mengejar hasil panen, tetapi mengubah cara pandang terhadap pertanian.
Hasilnya, 1.474 tanaman semangka dibudidayakan dan dipanen pada usia 60 hari setelah tanam. Estimasi produksi mencapai 4–5 ton buah berkualitas baik dan seragam. Indomaret tak hanya menyerap hasil panen, tetapi juga membuka akses distribusi luas dengan total serapan sekitar 158 ton.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY Ir. Aris Eko Nugroho, S.P., M.Si., turut hadir bersama jajaran Forkopimda, akademisi, serta Microeconomics Executive Director PT Indomarco Prismatama (Indomaret), Feki Oktavianus. Kehadiran mereka menunjukkan sinergi lintas sektor untuk pertanian berkelanjutan.
Kegiatan panen dilanjutkan dengan Focus Group Discussion (FGD) membahas arah pengembangan usaha tani ke depan. Regenerasi petani menjadi perhatian utama melalui program Youth Entrepreneurship and Employment Support Services (YESS).
Wiwitan panen semangka non-biji ini menjadi simbol transformasi pertanian Indonesia: modern, kolaboratif, dan berkelanjutan. Dari lahan Sleman, lahir harapan bahwa sinergi petani, akademisi, pemerintah, dan swasta mampu meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.











