MATRASNEWS, JAKARTA – Ekonomi Indonesia tumbuh 5,61% pada triwulan I 2026, naik dibanding periode sama tahun lalu yang hanya 4,87%. Capaian ini didorong konsumsi rumah tangga dan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Namun, ekonom Handi Risza menilai pertumbuhan tersebut belum sepenuhnya terasa di masyarakat.
Wakil Rektor Universitas Paramadina itu mengatakan bahwa peningkatan ekonomi masih tersentral di sektor manufaktur, transportasi, serta akomodasi.
Efek musiman Ramadan dan Lebaran ikut mendongkrak angka, namun manfaatnya belum merata.
Pertumbuhan tertinggi dalam lima tahun terakhir ini belum sepenuhnya terasa di lapangan,” ujar Handi, Kamis (7/5).
Ia memperingatkan bahwa kontraksi -0,77% secara kuartalan (qtq) serta risiko geopolitik global, seperti perang Iran-AS dan krisis energi, bisa memberi tekanan pada ekonomi domestik ke depan. Pemerintah diminta waspada terhadap pelemahan rupiah dan inflasi.











