CEO NK Global Holdings, Kim Joon Hwan, menambahkan bahwa G7CC Indonesia 2026 bukan sekadar pameran pendidikan, melainkan strategi kemitraan jangka panjang Indonesia–Korea Selatan. Kerja sama ini diperkuat melalui pendekatan multipihak yang melibatkan pemerintah, institusi pendidikan, dan industri. Seleksi peserta, pengumuman beasiswa, dan pengurusan visa akan berlangsung Juni–Agustus 2026, sebelum perkuliahan dimulai September 2026.
Direktur Penyediaan Tenaga Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, Anna Kurniati, Ph.D., mengapresiasi komitmen mitra dari Korea Selatan. “Kami berharap diskusi ini berkembang menjadi program kerja sama nyata, berkelanjutan, dan bermanfaat bagi mahasiswa, dosen, institusi pendidikan, serta sistem kesehatan kedua negara,” kata Anna.
Sekretaris Direktorat Jenderal Tenaga Kesehatan, Albert Yudha Poerwadi, menyebut seminar ini momentum penting memperkuat kerja sama pendidikan tenaga kesehatan. “Kegiatan ini menjadi wadah perguruan tinggi kedua negara menjajaki kolaborasi konkret untuk meningkatkan mutu pendidikan, memperkuat kapasitas institusi, dan mempersiapkan tenaga kesehatan menghadapi tantangan global,” ujarnya.
Ketua Asosiasi Politeknik Kesehatan Kemenkes Indonesia (APKESI) sekaligus Direktur Poltekkes Bandung, Dr. Pramita Iriana, S.Kp., M.Biomed, menegaskan 38 Poltekkes memiliki visi yang sama. “Fokus kolaborasi wajib berada di ranah Tri Dharma Perguruan Tinggi: pendidikan, penelitian, pengabdian masyarakat, hingga pengembangan teknologi kesehatan,” tutupnya.
Dengan kolaborasi kuat antara institusi pendidikan, pemerintah, dan industri, G7CC Indonesia 2026 diharapkan menjadi model kerja sama pendidikan internasional yang menjawab tantangan demografi sekaligus membuka peluang karier global bagi generasi muda Indonesia. Seminar diadakan di Direktorat Jenderal Tenaga Kesehatan-Kementerian Kesehatan RI pada 31 Mei 2026.
Ikuti berita terkini di Google News, klik di sini.











