Menu

Mode Gelap
Specteve Rilis Infinite Euphoria di Summarecon Mall Bekasi Perjalanan Organik Specteve dari Nyanyi Bareng hingga Panggung Raya Polsek Jatiasih Berikan Penyuluhan di SMPN 30 Kota Bekasi BPSDMP Gandeng 10 Pemda dan Perguruan Tinggi Hore, Bea Balik Nama Dihapus, Perpanjang STNK Kini Tanpa KTP Lama Presiden Prabowo Resmikan Pabrik Perakitan Bus Listrik di Magelang

Info Akademia

IYES Goes To Campus Bersama Universitas Mulawarman

badge-check


					IYES Goes To Campus Bersama Universitas Mulawarman Perbesar

Matrasnews.com – Pengembangan kawasan pedesaan menuju desa mandiri melalui desa wisata atau desa kreatif dinilai potensial dalam penciptaan lapangan kerja dengan mengoptimalkan potensi sumber daya ekonomi, sosial, dan lingkungan hidup untuk kesejahteraan masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno yang hadir secara daring dalam kegiatan “IYES Goes To Campus” bersama Universitas Mulawarman yang kali ini mengangkat tema “Potensi Ekonomi Kreatif Desa Berbasis Kearifan Lokal Menuju Desa Mandiri dan Sejahtera”.

“Desa wisata sangat potensial menjadi pencipta lapangan kerja yang kita rasa sangat dibutuhkan, terutama saat ini di tengah pandemi dan tantangan ekonomi,” kata Menparekraf Sandiaga Uno, Sabtu (2/10/2021).

Program-program pengembangan desa wisata dan desa kreatif inilah yang jadi salah satu fokus utama Kemenparekraf/Baparekraf saat ini. Utamanya dalam hal pengembangan produk dan jasa digital desa serta produk unggulan dengan konsep one village one product dalam lingkup kewirausahaan.

Produk yang memiliki nilai tambah seperti kuliner, kriya, dan fesyen lebih mudah untuk dapat diterima pasar dan meningkatkan perekonomian domestik. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin untuk dapat merambah pasar ekspor ke depan.

“Melalui pelatihan dan pendampingan, menjadi tugas kami melakukan monitoring secara berkala agar ada pengembangan mulai dari inisiatif produk sampai pengaplikasian nilai-nilai berkelanjutan,” kata Sandiaga.

Peran generasi muda khususnya mahasiswa sangat penting untuk dapat melihat potensi pariwisata dan ekonomi kreatif kawasan pedesaan dalam menyerap dan membuka lapangan kerja. Oleh karena itu, Sandiaga mengajak mahasiswa untuk bisa memanfaatkan peluang tersebut dengan menciptakan peluang bisnis UMKM yang terdigitalisasi dan berbasis ekonomi kreatif.

Semakin banyak anak muda yang berkecimpung di dunia wirausaha, akan semakin banyak pula produktivitas yang dihasilkan sehingga berdampak pula pada meningkatnya perkembangan ekonomi nasional.

“Ini peluang wirausaha muda dan saya ingin seribu orang yang hadir di sini melihat bahwa ke depan anak-anak muda itu jangan lulus terus mencari kerja, mereka harus mulai memikirkan untuk menciptakan lapangan kerja, memulai usaha yang akan mengurangi tingkat pengangguran, dan ternyata datanya menolong sekali. Bahwa 50 persen lebih dari lulusan universitas ingin membuka usaha sendiri,” ujar Sandiaga.

Koordinator Industri Kreatif Fesyen, Kriya, dan Desain Produk Kemenparekraf/Baparekraf, Romi Astuti, menjelaskan, pelatihan dan pendampingan yang dijalankan Kemenparekraf diantaranya adalah memaksimalkan teknologi digital dalam upaya memperluas pasar dan daya saing. Pendampingan dilakukan bagi masyarakat pedesaan, karena saat sentra ekonomi kreatif dan juga kegiatan pariwisata lebih banyak tersebar di pedesaan dibanding perkotaan.

“Seperti pendampingan di salah satu desa di Labuan Bajo. Kami memberikan pendampingan pembuatan motif baru kain tenun, juga fotografi produk serta digitalisasi dengan memaksimalkan ekonomi digital. Hasilnya penjualan mereka jadi meningkat hingga dua kali lipat. Pelatihan pun lebih banyak diikuti anak-anak muda di desa tersebut,” kata Romi.

Sementara Associate Professor and Certified Financial Planner, Dwi Wulandari, mengatakan, saat ini memang sudah saatnya bagi pemerintah untuk memaksimalkan potensi ekonomi kreatif yang ada di desa sebagai tulang punggung perekonomian tanah air. Yakni bagaimana desa dapat menghadirkan produk unggulan yang memiliki keunikan, bernilai ekonomi, dan mudah diusahakan.

Selain itu juga memiliki tingkat produktivitas yang tinggi dan bersifat kontinyu, memiliki skala ekonomi besar, serta berpengaruh terhadap perekonomian.

“Keberadaan desa mandiri, yakni desa yang mampu mengatur dan membangun desanya dengan memaksimalkan potensi yang ada di desa dan kemampuan masyarakatnya dan tidak tergantung pada bantuan pihak luar harus terus didorong,” kata Dwi Wulandari.

Turut hadir dalam kesempatan tersebut Anggota Komisi XI DPR/RI yang juga Founder KAHMIPreneur, Kamrussamad.

Matrasnews.com

Baca Lainnya

Polsek Jatiasih Berikan Penyuluhan di SMPN 30 Kota Bekasi

10 April 2026 - 13:32 WIB

TKA di SKH YKDW 2 Tangerang Sukses, 100% Siswa Disabilitas Pendengaran Berpartisipasi

9 April 2026 - 00:08 WIB

Antusiasme Pelajar Mewarnai Program Istana untuk Siswa Sekolah

8 April 2026 - 00:36 WIB

Dialog Intelektual Psikologi Modern, Neurosains dan Spiritualitas

6 April 2026 - 00:08 WIB

Pendidikan Berkualitas, Irlandia Makin Menarik Perhatian Mahasiswa Indonesia

4 April 2026 - 03:41 WIB

Trending di Info Akademia